Kontroversial, Italia Larang Anak yang Belum Divaksin Masuk Sekolah

Kompas.com - 13/03/2019, 18:33 WIB
Ilustrasi vaksinshutterstock Ilustrasi vaksin

KOMPAS.com – Pemerintah Italia mengambil langkah keras terhadap para orangtua yang menolak anaknya divaksin hingga tenggat waktu yang jatuh pada Senin (11/3/2019).

Dalam peraturan baru yang bernama Hukum Lorenzin, seorang anak dilarang masuk ke sekolah tanpa menunjukkan bukti telah menjalani 10 vaksin wajib, termasuk polio, cacar air, campak dan rubela.

Dilansir dari BBC, Selasa (12/3/2019); anak yang berusia di bawah enam tahun bisa dikeluarkan dari sekolah jika tidak divaksin. Sementara itu, orangtua dari anak yang lebih besar bisa didenda sebesar 500 euro atau Rp 8 juta jika tetap ngotot mengirimkan anaknya yang belum divaksin ke sekolah.

Washington Post, Rabu (12/3/2019), juga melaporkan bahwa diakibatkan oleh peraturan ini, sebanyak 300 anak di kota Bologna saja tidak diperbolehkan masuk TK pada minggu ini. Hal yang sama mungkin juga terjadi pada lusinan anak-anak di kota-kota Italia lainnya.

Baca juga: Tak Usah Didebat Lagi, Vaksin MMR Tidak Ada Hubungannya dengan Autisme

Meski demikian, Menteri Kesehatan Italia Giulia Grillo menolak untuk mengendurkan peraturan itu ataupun memperpanjang batas waktunya. Dengan tegas, dia berkata bahwa aturannya sederhana: “Tidak divaksin, tidak sekolah”.

Kekebalan kelompok

Walaupun terdengar ekstrem, Hukum Lorenzin bukan tanpa alasan. Peraturan itu dibuat untuk menaikkan angka vaksinasi Italia yang berada di bawah 80 persen agar mencapai target Badan Kesehatan Dunia (WHO), yaitu 95 persen.

Target 95 persen tersebut adalah titik di mana herd immunity atau kekebalan kelompok bisa bekerja dengan efektif.

Untuk diketahui, kekebalan kelompok adalah situasi di mana populasi yang sudah divaksin dapat memberikan perlindungan tidak langsung terhadap penyebaran penyakit bagi individu yang tidak dapat divaksin. Para individu ini adalah bayi yang terlalu kecil untuk divaksin atau orang-orang yang mempunyai kondisi medis khusus, seperti sistem imunitas yang kurang.

Baca juga: WHO: Kasus Campak di Dunia Meningkat, Perangi dengan Vaksin

BBC melaporkan bahwa pada bulan lalu, seorang anak berusia delapan tahun di Roma tidak dapat masuk sekolah pada bulan lalu karena sistem imunitasnya yang kurang. Anak tersebut baru selesai menjalani perawatan leukimia dan berisiko mengalami infeksi dari teman-teman sekolahnya yang belum divaksin.

Meskipun baru seumur jagung dan diliputi oleh kontroversi, Hukum Lorenzin tampaknya bekerja dengan efektif.

Pada hari Senin minggu ini ketika tenggat waktu pengumpulan bukti vaksinasi tiba, Kementerian Kesehatan Italia mengumumkan bahwa tingkat imunisasi nasional untuk anak-anak yang lahir pada 2015 telah mencapai atau setidaknya mendekati 95 persen, tergantung dari jenis vaksinasinya.




Close Ads X