Tidak Divaksin, Bocah AS Masuk ICU 47 Hari karena Tetanus

Kompas.com - 12/03/2019, 19:08 WIB
IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com – Cerita ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua mengenai pentingnya vaksin.

Seorang anak laki-laki berusia enam tahun di Oregon, AS, harus dirawat di intensive care unit (ICU) selama 47 hari karena tidak menjalani vaksin tetanus.

Dilaporkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC), kasus ini sekaligus menjadi kasus tetanus anak pertama di Oregon selama 30 tahun terakhir.

“Dikarenakan oleh efektifitas vaksin, banyak orang tidak pernah melihat kasus penyakit parah yang bisa dicegah oleh vaksin,” ujar associate professor di perawatan kritis anak Oregon Health & Science University dan penulis laporan Dr Carl Eriksson kepada Time, Jumat (8/3/2019).

Baca juga: Tak Usah Didebat Lagi, Vaksin MMR Tidak Ada Hubungannya dengan Autisme

“Kasus ini menunjukkan bahwa tetanus adalah penyakit yang mengerikan, dan mengingatkan kita bahwa melewatkan vaksin bisa menyebabkan konsekuensi yang mematikan,” imbuhnya.

Dituturkan dalam laporan, bocah AS tersebut terinfeksi tetanus melalui luka pada dahi saat bermain di sebuah peternakan.

Seminggu kemudian, bocah tersebut menunjukkan gejala-gejala tetanus, seperti kejang-kejang otot, spastisitas atau kontraksi otot, penegangan rahang, pelengkungkan punggung dan leher, serta kesulitan bernapas. Dalam kegawatdaruratan tersebut, petugas kesehatan memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit dengan helikopter.

Namun, kondisinya terus memburuk. Ia tidak bisa membuka mulut untuk makan dan minum, dan mengalami kesulitan bernapas sehingga harus dibius dan dipasangi alat bantu pernapasan.

Baca juga: WHO: Kasus Campak di Dunia Meningkat, Perangi dengan Vaksin

Dokter pun memberinya semua perawatan yang ada untuk tetanus, termasuk vaksin difteri, batuk rejan dan tetanus (DtaP). Akan tetapi, kondisinya yang begitu buruk membuatnya harus dirawat dalam ruangan yang gelap sambil memakai penutup telinga untuk mengurangi stimulasi visual dan suara.

Eriksson berkata bahwa pada saat ini bocah tersebut telah pulih sepenuhnya. Namun, sebelumnya dia dipasangi alat bantu pernapasan selama 44 hari dan mendekam di dalam ICU selama 47 hari. Setelah ICU, ia juga masih dirawat di pusat rehabilitasi selama 47 hari.

Secara total, seluruh perawatan anak tersebut, tanpa menghitung biaya helikopter untuk membawanya ke rumah sakit, menelan 812.000 dollar AS atau sekitar Rp 11,64 miliar.

“Namun tanpa memedulikan pemaparan risiko dan manfaat dari vaksin tetanus oleh para dokter, keluarganya tetap menolak dosis kedua vaksin DTaP dan imunisasi lain yang direkomendasikan,” tulis Eriksson dalam laporan.




Close Ads X