Kompas.com - 08/03/2019, 10:07 WIB
Ilustrasi tikus Francisco MartinsIlustrasi tikus


KOMPAS.com - Tim peneliti China menemukan bahwa tikus memiliki dua gen untuk mengatur ukuran tubuh yang mirip film fiksi ilmiah, Ant-Man. Dua gen itu adalah Pum1 dan Pum2.

Profesor Xu Yujun selaku pemimpin studi dari Universitas Kedokteran Nanjing, Provinsi Jiangsu, China Timur, meyakini studinya dapat dikembangkan sebagai metode baru untuk terapi tumor manusia.

Untuk membuktikan apa yang terjadi, tim menghilangkan gen Pum1 dan Pum2 pada embrio tikus.

Hasil laporan yang diterbitkan di jurnal Cell Press menunjukkan, saat tikus yang dihilangkan dua gennya sudah lahir ia memiliki ukuran yang lebih kecil dibanding tikus normal.

Baca juga: Ahli Tak Sengaja Bikin Tikus Aneh, Punya Ekor Panjang dan Pendek

Para peneliti dapat mengecualikan efek dari faktor lain seperti makanan dan hormon pertumbuhan.

Studi lebih lanjut menunjukkan bahwa embrio tikus tanpa gen Pum1 ukurannya lebih kecil, meski periode embrionik baru 13,5 hari.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Hilangnya gen Pum1 tidak memengaruhi masa hidup dan kesehatan tikus," kata Xu melansir portal berita Xinhua, Rabu (6/3/2019).

Hal itu dipastikan setelah Xu dan timnya mengamati perkembangan tikus selama lebih dari 96 minggu, atau setara manusia berusia 70 tahun. Selama waktu itu, tidak ada cacat signifikan yang ditunjukkan tikus.

"Kami percaya tanpa gen Pum1 kecepatan pertumbuhan sel melambat yang menyebabkan pengurangan jumlah sel," ujarnya.

Dia menjelaskan, gen memainkan peran pengaturan dalam proses RNA penghasil protein, sehingga dapat mengontrol proliferasi sel (fase sel saat mengalami pengulangan siklus sel tanpa hambatan).

Kalau gen Pum1 memengaruhi ukuran tikus, maka gen Pum2 memengaruhi berat tikus. Namun, efeknya tidak semencolok gen Pum1.

Timnya mencapai kontrol yang tepat atas ukuran tikus setelah mereka menemukan hilangnya Pum1 atau Pum2 dapat memengaruhi ukuran tikus.

Baca juga: Studi: Tikus dan Burung Dara Mungkin Menggantikan Spesies Ikonik

"Hal ini memiliki potensi besar untuk mengobati tumor manusia," kata Xu.

"Tumor adalah massa sel abnormal yang berkembang secara tak terkendali. Sebab itu, terapi tumor manusia yang terbaru nantinya mungkin juga dapat menggunakan teknologi gen untuk mengatur kecepatan proliferasi sel," jelasnya.



Sumber Xinhua
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tulang Kelelawar Vampir Raksasa Ditemukan di Gua Argentina

Tulang Kelelawar Vampir Raksasa Ditemukan di Gua Argentina

Oh Begitu
Banyak Lansia di Indonesia, IMERI FKUI Luncurkan Modul Healthy Aging

Banyak Lansia di Indonesia, IMERI FKUI Luncurkan Modul Healthy Aging

Oh Begitu
Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Kita
POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

Oh Begitu
Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Oh Begitu
Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Oh Begitu
Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Oh Begitu
Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Fenomena
Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Oh Begitu
Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Fenomena
Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Oh Begitu
Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Oh Begitu
Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Fenomena
Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Kita
Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X