Kompas.com - 06/03/2019, 12:05 WIB
Orangutan Batang Toru atau Tapanuli lebih dekat hubungannya dengan Orangutan Kalimantan daripada Orangutan Sumatera. Mereka hidup di sebuah hutan terisolasi yang ada di pegunungan Sumatera. Orangutan Batang Toru atau Tapanuli lebih dekat hubungannya dengan Orangutan Kalimantan daripada Orangutan Sumatera. Mereka hidup di sebuah hutan terisolasi yang ada di pegunungan Sumatera.

Melihat populasi orangutan yang terfragmentasi ini, Koalisi Indonesia khawatir mereka akan segera punah.

Baca juga: Berdamai dalam Konflik Orangutan

Pasalnya selain waktu perkembangbiakannya yang lama, di mana orangutan Tapanuli baru bisa mempunyai anak pada usia 15 tahun dan hanya melahirkan setiap 8-9 tahun; kerentanan spesies ini juga disebabkan oleh sifatnya yang 100 persen arboreal.

Artinya, mereka sangat bergantung pada habitat hutan dan tidak bisa menyeberangi wilayah yang tidak ada pohonnya, seperti jalan raya.

“Jadi, (ketiga blok) perlu dihubungkan, tapi mustahil kalau ada PLTA. Blok barat dan timur itu sudah terbelah oleh jalan raya,” ujar Panut.

Koalisi Indonesia Orangutan Tapanuli dalam jeratan PLTA

Sayangnya, lokasi yang paling memungkinan untuk menghubungkan ketiga blok (lingkaran kuning pada gambar di atas) adalah lokasi PLTA Batangtoru (kotak merah). Proyek ini juga dikhawatirkan akan membelah blok barat menjadi dua dengan pembangunan jalan akses dan sutet, sehingga populasi orangutan semakin terfragmentasi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam akun resminya di Instagram, PLTA Batangtoru mengklaim telah membangun jembatan arboreal agar satwa dapat berpindah tempat. Namun, jembatan itu dinilai koalisi Indonesia tidak layak untuk orangutan.

“Jembatan arboreal yang cuma tali itu belum dipastikan akan dipakai orangutan secara ilmiah,” ujar Panut.

Dia menambahkan bahwa dengan adanya aktivitas manusia, sutet, dan lain-lain; orangutan yang pada dasarnya menghindari manusia dan keributan juga tetap akan terusir kalaupun PLTA Batangtoru membangun jembatan yang layak dan menyerupai hutan.

Orangutan Tapanuli secara alami hidup di dataran rendah (kurang dari 500 meter) yang hangat dan banyak air. Mereka bisa tergusur ke elevasi yang lebih tinggi dengan adanya PLTA Batangtoru. Bila hal ini terjadi, Arrum berkata bahwa persaingan mencari makan dan pasangan akan menjadi lebih sengit, dan memicu timbulnya inbreeding (kawin sedarah).

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.