50 Persen Kematian Akibat Polusi Udara Disebabkan Mesin Diesel

Kompas.com - 01/03/2019, 11:36 WIB
Ilustrasi polusi yang dikeluarkan knalpot kendaraan. Paultan.orgIlustrasi polusi yang dikeluarkan knalpot kendaraan.

KOMPAS.com - Sebuah studi di Amerika Serikat menemukan bahwa sekitar 380.500 orang di seluruh dunia meninggal dini pada 2015 karena polusi udara yang disebabkan oleh asap dari knalpot kendaraan.

Mesin diesel adalah penyebab utamanya, menurut studi tersebut, seperti yang dilansir oleh kantor berita AFP, Rabu (27/02/2019).

Kendaraan berbahan bakar solar bertanggung jawab atas 47 persen kematian. Tetapi angka itu melonjak naik menjadi 66 persen di Perancis, Jerman, Italia dan India, dimana kendaraan berbahan bakar solar paling banyak digunakan.

Studi ini dilakukan oleh para peneliti dari Dewan Internasional Untuk Transportasi Bersih (ICCT) dan dua universitas AS.

Baca juga: Polusi Udara di China Bikin Mood Jelek, Ini Buktinya

ICCT adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang melaporkan "dieselgate", skandal kecurangan emisi Volkswagen pada 2015.

"Tingginya beban kesehatan masyarakat yang diakibatkan oleh kendaraan diesel di Eropa menggarisbawahi perlunya standar emisi kelas dunia yang harus disertai dengan kepatuhan dan penegakan yang kuat," kata penulis ICCT Joshua Miller.

Dia juga menyerukan perlunya tindakan segera untuk mengganti kendaraan yang beremisi tinggi.

Dalam cakupan studi yang lebih luas, para peneliti meneliti emisi dari mobil diesel dan non-diesel, truk, bis, industri perkapalan serta mesin pertanian dan konstruksi. Mereka melihat dampak dari emisi tersebut terhadap kesehatan manusia.

Mereka menemukan bahwa sektor transportasi global bertanggung jawab atas 11 persen dari 3,4 juta kematian prematur setiap tahun yang disebabkan oleh polusi dari partikel halus (PM2.5) dan paparan ozon di permukaan tanah.

Biaya beban kesehatan yang disebabkan oleh polusi transportasi, yang telah dikaitkan dengan penyakit paru-paru, jantung, dan diabetes bertambah hingga 1 triliun dollar AS pada 2015, kata para peneliti.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X