Polusi Udara di China Bikin "Mood" Jelek, Ini Buktinya

Kompas.com - 24/01/2019, 19:02 WIB
Kondisi lalu lintas di Beijing, China, pada 14 November 2018. Kondisi lalu lintas di Beijing, China, pada 14 November 2018.


KOMPAS.com - Selain membuat mata berair dan leher gatal, polusi udara juga berpengaruh buruk pada suasana hati.

Penemuan ini ditunjukkan dalam sebuah studi di China yang mempelajari hubungan antara polusi udara dan percakapan di media sosial.

"Intinya sederhana," kata Siqi Zheng, penulis laporan dan dosen Massachusetts Institute of Technology (MIT).

"Tingkat polusi udara yang tinggi menurunkan kebahagiaan di kalangan warga China."

Baca juga: Studi: Polusi Udara Tingkatkan Risiko Demensia

Udara kotor jadi salah satu masalah utama yang dihadapi warga perkotaan China, di samping harga rumah yang melonjak, keamanan makanan yang mengkhawatirkan, dan layanan masyarakat berkualitas rendah.

Namun, polusi udara – terutama partikel mikroskopis dari pabrik dan pembangkit listrik tenaga batu bara – sudah lama jadi keluhan di kalangan kelas menengah China yang terus berkembang.

Lebih dari 1 juta kelahiran prematur di China bisa dikaitkan dengan polusi udara, menurut WHO.

Campuran beragam partikel, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, dan ozon juga sering dikaitkan dengan buruknya produktivitas, kinerja kognitif, dan hasil belajar.

Selain itu, pengamat mencatat warga lebih cenderung menunjukkan perilaku berisiko dan impulsif di hari yang kadar polusinya tinggi.

Peneliti: Polusi Tinggi = Kebahagiaan Turun

Foto perbandingan ini diambil di taman Jingshan, Beijing, China. Foto atas diampil pada 6 September 2018 dan foto penuh polusi (bawah) diambil pada 15 Oktober 2018. Foto perbandingan ini diambil di taman Jingshan, Beijing, China. Foto atas diampil pada 6 September 2018 dan foto penuh polusi (bawah) diambil pada 15 Oktober 2018.

Untuk mengetahui bagaimana polusi udara mempengaruhi mood harian warga, Zheng dan koleganya menggunakan algoritma untuk memeriksa 200 juta pesan dari 144 kota yang diunggah ke Weibo pada tahun 2014.

Weibo adalah situs media sosial terbesar di China dengan lebih dari 455 juta pengguna aktif.

Para peneliti merancang "indeks ekspresi kebahagiaan" berdasarkan kata kunci dan konteks, yang lalu diperiksa silang dengan tingkat polusi udara yang meningkat.

"Kami menemukan korelasi negatif yang signifikan antara tingkat polusi dan kebahagiaan," ujar Zheng. Menurut Zheng, jika salah satu faktor naik, yang lainnya turun.

"Perempuan lebih sensitif terhadap tingkat polusi yang tinggi dibandingkan laki-laki."

Lebih dari 50 persen penduduk China – sekitar 700 juta orang – kini tinggal di perkotaan. Korelasi paling kuat ditemukan di kota-kota paling bersih dan paling kotor.

Pemerintah China Berupaya Memberantas Polusi Udara

Beijing dan Tianjin, rumah bagi lebih dari 35 juta warga, termasuk dalam kota-kota yang udaranya paling tercemar di China.

Sering kali kepadatan partikel polusi di kota-kota tersebut 2 sampai 4 kali lebih tinggi dari batas standar Pedoman Kualitas Udara WHO.

Mayoritas warga dan pemerintah sadar akan masalah ini dan konsekuensinya.

Pada tahun 2012, Kedubes AS di Beijing mengeluarkan angka polusi harian di Twitter, dan hasilnya selalu lebih tinggi dari yang dilaporkan pemerintah setempat. Sejak itu, China bertekad memberantas polusi udara.

"Indeks kami berpotensi menjadi pedoman bagi pemerintah untuk memahami kekhawatiran warga," kata Zheng.

Baca juga: Basmi Polusi Udara, Perusahaan India Usulkan Menara Penyaring Raksasa

Pemerintah China telah lama memonitor unggahan dan perbincangan di media sosial untuk memantau opini publik.

Menurut pejabat Liu Bingjiang, China ingin mengurangi kepadatan partikel mikroskopis sebesar 3 persen antara 1 Oktober 2018 dan 31 Maret 2019 di kawasan Beijing-Tianjin-Hebei.

"Kota-kota yang tidak mencapai target kualitas udara akan dijatuhi hukuman dengan langkah-langkah pertanggungjawaban yang belum ditentukan," tambah Liu.



Close Ads X