Kompas.com - 27/09/2018, 11:32 WIB
Polusi udara terlihat di langit Jakarta, Senin (3/9/2018). Menurut pantauan kualitas udara yang dilakukan Greenpeace, selama Januari hingga Juni 2017, kualitas udara di Jabodetabek terindikasi memasuki level tidak sehat (unhealthy) bagi manusia. KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMOPolusi udara terlihat di langit Jakarta, Senin (3/9/2018). Menurut pantauan kualitas udara yang dilakukan Greenpeace, selama Januari hingga Juni 2017, kualitas udara di Jabodetabek terindikasi memasuki level tidak sehat (unhealthy) bagi manusia.

KOMPAS.com - Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal medis BMJ Open, Rabu (19/9/2018) menunjukkan hubungan antara polusi udara di perkotaan dan meningkatnya risiko demensia. Meskipun ada pengaruh faktor lain juga, seperti minum minuman keras, merokok, atau faktor risiko lain yang sudah lebih dulu diketahui.

Di seluruh dunia, sekitar 7 persen orang yang berusia di atas 65 tahun menderita Alzheimer atau semacam demensia, dimana prosentase penderita yang berusia di atas 85 tahun meningkat menjadi 40 persen.

Jumlah mereka yang terpapar penyakit ini di seluruh dunia diperkirakan akan naik berlipat ganda pada tahun 2050, sehingga ditengarai bakal menimbulkan tantangan besar terhadap sistem layanan kesehatan.

"Dalam beberapa dekade mendatang, pencegahan segala bentuk demensia merupakan keprihatinan kesehatan publik utama di seluruh dunia," demikian tulis para peneliti.

Baca juga: Basmi Polusi Udara, Perusahaan India Usulkan Menara Penyaring Raksasa

Bahan-bahan kimia yang dibuang knalpot kendaraan - seperti nitrogen dioksida (NO2) - diketahui dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke dan masalah pernafasan seperti asma.

Tetapi masih belum jelas apakah bahan-bahan kimia itu juga menimbulkan Alzheimer atau jenis lain demensia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Untuk mengetahui lebih lanjut, tim peneliti yang dipimpin Iain Carey di Institut Penelitian Kesehatan Penduduk, Universitas London, meneliti arsip kesehatan 131.000 yang tinggal di Greater London, yang pada tahun 2004 berusia antara 50-79 tahun.

Ketika penelitian ini dimulai, belum ada satu orang pun yang menunjukkan tanda-tanda demensia.

Berdasarkan alamat tempat tinggal, para peneliti memperkirakan ada paparan tahunan – baik NO2, maupun partikel halus yang dikenal sebagai PM2,5 – dan kemudian mereka melacak kondisi kesehatan peserta selama tujuh tahun.

Selama kurun waktu itu hampir 2.200 pasien, atau berarti 1,7 persen dari total orang yang diteliti, didiagnosis menderita demensia.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.