Terungkap, Arti Motif Wajah pada Kukang Jawa

Kompas.com - 19/02/2019, 12:06 WIB
Petugas BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Banten mengamankan Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) yang disita dari warga di Serang, Banten, Rabu (17/10/2018). Petugas mengamankan hewan dilindungi tersebut dari warga melalui pendekatan persuasif untuk direhabilitasi kemudian dikembalikan ke habitatnya. ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/hp. ASEP FATHULRAHMANPetugas BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Banten mengamankan Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) yang disita dari warga di Serang, Banten, Rabu (17/10/2018). Petugas mengamankan hewan dilindungi tersebut dari warga melalui pendekatan persuasif untuk direhabilitasi kemudian dikembalikan ke habitatnya. ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/hp.

KOMPAS.com - Sepasang mata lebar, hidung bulat, serta bulu yang lebat membuat kukang jawa menjadi hewan yang terlihat menggemaskan. Namun, siapa sangka bila di balik wajah manisnya itu, kukang adalah satu-satunya primata berbisa di dunia.

Makhluk ini mengeluarkan racun dari air liur mereka serta kelenjar yang keluar pada bagian dalam lengan. Perpaduan kedua racun itu tentu cukup akan mematikan.

Meski begitu, bukan berarti mereka bisa lepas dari segala ancaman. Sebab, fakta lainnya adalah kukang bertubuh kecil serta bergerak lambat sehingga mereka mudah mendapatkan serangan.

Hal ini pun membuat mereka harus menunjukkan kegarangan tanpa benar-benar terlibat dalam duel. Caranya adalah melalui warna pada wajah mereka.

"Banyak hewan melakukannya. Mereka menggunakan warna untuk menandakan seberapa kuat atau dominannya mereka," kata Anna Nekaris, ahli biologi konservasi dari Oxford Brookes University di Inggris.

Baca juga: Mengenal Bekantan, Primata Asli Borneo yang Sedang Melawan Kepunahan

Mekanisme ini disebut dengan warna aposematic atau warna peringatan. Beberapa hewan lain yang juga menggunakannya adalah sigung, musang dan kepik.

Kesimpulan tersebut berdasarkan bukti penelitian yang sudah dikumpulkan selama delapan tahun. Penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal Toxins ini dilakukan dengan cara menangkap kemudian melepaskan kembali 200 binatang untuk menunjukkan bahwa warna motif di muka Kukang Jawa memang merupakan warna aposematic.

Menurut peneliti, tanda peringatan itu terlihat pada bagian mulut, yang mengacu sebagai tempat yang paling berbahaya. Tanda peringatan tersebut akan dikenali oleh mahluk lain termasuk predator Kukang Jawa seperti elang dan ular sanca.

"Kukang ibarat bola kematian yang imut dan berbulu," kata Nekaris.

Kukang Jawa sendiri hidup berpasangan dan menjaga wilayah hutan seukuran lapangan sepakbola. Sayangnya, sangat sedikit habitat yang tersisa di pulau Jawa karena pertanian dan penggundulan hutan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X