Kompas.com - 16/02/2019, 19:07 WIB
Astronot kembar NASA, Mark Kelly (Kiri) dan Scott Kelly (Kanan) Astronot kembar NASA, Mark Kelly (Kiri) dan Scott Kelly (Kanan)

KOMPAS.com – Studi kembar ambisius yang dilaksanakan oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) kembali membuktikan ketangguhan manusia.

Walaupun belum dipublikasikan secara penuh, NASA telah memaparkan ringkasannya dalam konferensi pers di pertemuan tahunan American Association for the Advancement of Science, pada Jumat kemarin (15/2/2019).

Pada intinya, studi menemukan bahwa pejalanan ke luar angkasa untuk jangka waktu lama mengubah tubuh manusia, bahkan pada tingkat molekul. Namun, belum ada alasan yang muncul untuk melarang manusia melakukan perjalanan pulang-pergi ke Mars selama 2,5 tahun.

Studi kembar sendiri bertujuan untuk mengetahui perubahan fisiologi pada astronot jika melakukan perjalanan luar angkasa untuk durasi lama.

Baca juga: Pesan dari Astronot Kelly, Jatuh Cinta pada Sains Bisa Diciptakan

Subyeknya hanya dua, yaitu astronot Scott Kelly yang pernah melaksanakan misi NASA selama hampir setahun di luar angkasa dan saudara kembarnya astronot Mark Kelly yang tidak pernah keluar dari bumi. NASA melibatkan 10 peneliti dari seluruh dunia untuk meneliti Kelly bersaudara.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Nah, hasil analisis terbaru pada darah Scott Kelly menunjukkan bahwa sistem imunitasnya langsung naik ketika dia berada di luar angkasa.

Christopher Mason, Associate Professor untuk divisi genomik komputasional di Weill Cornell Medicine yang terlibat dalam penelitian, berkata bahwa tubuh Kelly seakan-akan merasa sedang diserang, setidaknya pada tingkat selular.

Mason pun berkata bahwa selama ini, telah diketahui bahwa lingkungan mikrogravitasi menyebabkan gangguan pada pengelihatan, penipisan tulang dan otot, serta gangguan siklus bangun dan tidur. Kali ini, gangguan juga terlihat pada tingkat selular, seperti perubahan pada ekspresi gen.

Baca juga: Mantan Astronot NASA: Kirim Manusia ke Mars adalah Langkah Bodoh

Akan tetapi, studi juga menunjukkan bahwa tubuh memiliki kemampuan beradaptasi yang luar biasa terhadap lingkungan tanpa gravitasi, setidaknya selama setahun.

Temuan tersebut semakin memantapkan rencana NASA untuk mengirimkan manusia ke Mars.

Craig Kundrot, direktur divisi sais kehidupan dan fisik luar angkasa NASA, berkata bahwa riset sejauh ini belum menemukan alasan yang membuat misi Mars mustahil

Mungkin kekhawatiran terbesar hanyalah soal radiasi di luar angkasa yang jauh melebihi panduan kesehatan saat ini, tetapi hal itu belum cukup untuk menghentikan misi Mars.

Meski demikian, Kundrot pun mengakui bahwa studi ini sangat kecil karena sampelnya hanya dua orang sehingga belum konklusif untuk diaplikasikan secara meluas.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tulang Kelelawar Vampir Raksasa Ditemukan di Gua Argentina

Tulang Kelelawar Vampir Raksasa Ditemukan di Gua Argentina

Oh Begitu
Banyak Lansia di Indonesia, IMERI FKUI Luncurkan Modul Healthy Aging

Banyak Lansia di Indonesia, IMERI FKUI Luncurkan Modul Healthy Aging

Oh Begitu
Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Kita
POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

Oh Begitu
Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Oh Begitu
Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Oh Begitu
Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Oh Begitu
Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Fenomena
Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Oh Begitu
Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Fenomena
Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Oh Begitu
Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Oh Begitu
Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Fenomena
Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Kita
Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X