Gonjang-ganjing Dunia Peneliti, Membedah Reorganisasi LIPI

Kompas.com - 07/02/2019, 17:30 WIB
Kepala LIPI, Laksana Tri HandokoDok Pribadi Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko

KOMPAS.com - Dunia penelitian Indonesia kerap dikritisi. Peneliti dianggap hanya menghasilkan kertas. Dalam banyak kasus, publikasinya pun bukan berada di jurnal ilmiah yang berdampak besar.

Dana penelitian Indonesia hanya dua persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun di sisi lain, Presiden Joko Widodo dan Menteri Keuangan Sri Mulyani mengkritik bahwa dana riset diecer-ecer.

Tidak maksimalnya kinerja dunia riset Indonesia menggerakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk melakukan reorganiasi.

Kepala LIPI Laksana Tri Handoko mengungkapkan, reorganisasi yang digagasnya bakal mengatasi akar masalah kegiatan penelitian selama ini sehingga membantu Indonesia mengejar ketertinggalan.

Namun upaya reorganisasi itu memicu polemik. 30 Januari 2019 lalu, sejumlah peneliti LIPI protes ke DPR dan meminta Kepala LIPI diturunkan dari jabatannya. Sementara pesan berantai dari staf dan peneliti LIPI sampai ke Whatsapp para wartawan.

Kompas.com mewawancara Kepala LIPI pada Rabu (31/1/2019) lalu untuk memahami rencana reorganisasi LIPI dan membaca visi lembaga riset itu dalam mengatasi tantangan inovasi, digital, dan komunikasi publik.

Bisa dijelaskan, bagaimana sebenarnya rencana reorganisasinya?

Reformasi birokrasi, reorgasinasi, bukan hanya tren tetapi kewajiban. Itu harapan semua orang, bukan hanya pemerintah, tapi juga masyarakat. Wajib bagi semua kementerian lembaga.

Dalam konteks penelitian, yang harus dilakukan secara internal adalah melakukan perbaikan pelayanan sehingga untuk LIPI, risetnya menjadi bagus.

Perbaikan internalnya kalau kita adalah mengubah proses bisnis internal yang mendukung penelitian, yaitu soal administrasi penelitian.

Apa akar masalah yang mau diselesaikan?

Seperti yang sering diungkapkan, peneliti dibebani administrasi. Harus membuat laporan keuangan, misalnya. Ini membuat kinerja peneliti tidak efektif.

Akibat ada pekerjaan administratif, karir peneliti terhambat karena produktivitasnya tidak maksimal. Di sisi lain, ketika mengerjakan administrasi, kurang profesional.

Halaman:



Close Ads X