Kompas.com - 07/02/2019, 11:32 WIB
Bajadasaurus pronuspinax memiliki leher dan punggung bertanduk tajak yang diyakini mekanisme pertahanan melawan predator. Bajadasaurus pronuspinax memiliki leher dan punggung bertanduk tajak yang diyakini mekanisme pertahanan melawan predator.


KOMPAS.com - Saat dinosaurus masih berkeliaran di Patagonia, Argentina, Amerika Selatan, mungkin ada satu dinosaurus paling menonjol dengan punggung mohawk.

Kalau mohawk yang kita kenal adalah gaya rambut, maka ini berbeda. Mohawk yang dimiliki dinosaurus bernama Bajadasaurus pronuspinax berupa deretan tanduk seperti duri panjang.

B. pronuspinax hidup 140 juta tahun lalu di awal periode Cretaceous Bawah. Mereka merupakan bagian dari keluarga Sauropoda dan nampak seperti persilangan antara Brontosaurus kecil dengan landak.

"Sauropoda adalah dinosaurus besar dengan leher dan ekor panjang. Namun ini (B. pronuspinax) ukurannya lebih kecil, hanya sekitar sembilan sampai sepuluh meter," jelas ahli paleontologi Pablo Gallina dari National Scientific and Technical Research Council di Argentina.

Baca juga: Inilah 3 Dinosaurus Terbesar yang Pernah Menjelajah Bumi

Ilustrasi Bajadasaurus pronuspinax, dinosaurus jenis baru yang ditemukan di Argentina pada 2013. Sangat unik, mereka memiliki punggung berduri dengan gaya mohawk. Ilustrasi Bajadasaurus pronuspinax, dinosaurus jenis baru yang ditemukan di Argentina pada 2013. Sangat unik, mereka memiliki punggung berduri dengan gaya mohawk.

Saat fosilnya ditemukan di Patagonia, Argentina, para ahli menemukan tengkorak beserta tanduk-tanduk di punggung yang masih utuh.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tertulis dalam laporan yang terbit di jurnal Scientific Reports, temuan ini tak hanya mengungkap dinosaurus jenis baru tapi juga mencoba memahami fungsi tanduk di tubuh B. pronuspinax.

"Kami percaya, tanduk yang panjang dan tajam di leher serta punggung Bajadasaurus pronuspinax dan Amargasaurus cazaui (dicraeosaurus lain) untuk melindungi diri dari predator," kata Gallina kepada AFP.

"Seandainya tanduk itu hanya tulang telanjang atau hanya ditutupi kulit, tentu itu (tanduk) akan cepat patah bila menghadapi serangan predator," imbuhnya.

Sebaliknya, ahli menduga tanduk ini dilapisi oleh keratin. Sama seperti yang dimiliki tanduk kijang.

Melansir Science Alert, Rabu (6/2/2019), kerangka B. pronuspinax ditemukan di Lembah Neuquén, Argentina pada akhir 2013.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.