Batu Tertua Bumi Ditemukan di Bulan, Begini Asal Usulnya

Kompas.com - 28/01/2019, 12:07 WIB
Big Bertha, sampel batuan yang dibawa para astronot Apollo 14 (1971) diyakini berasal dari Bumi. Big Bertha, sampel batuan yang dibawa para astronot Apollo 14 (1971) diyakini berasal dari Bumi.

KOMPAS.com - Para ahli mengaku telah menemukan batu tertua dari Bumi. Anehnya, batu itu ditemukan dan dibawa pulang oleh para astronot Apollo 14, misi ketiga NASA yang mendaratkan manusia ke Bulan pada 31 Januari 1971.

Hampir 50 tahun berlalu asal usul batu seberat 2 gram yang diberi nama Big Bertha baru terkuak. Salah satu hal yang membuat Big Bertha diyakini berasal dari Bumi adalah kandungannya.

Melansir IFL Science, Jumat (25/1/2019), Big Bertha mengandung kuarsa, zirkon, dan feldspar. Semua kandungan itu banyak ditemukan di Bumi dan jarang ada di Bulan.

Selain itu, analisi kimia Big Bertha menunjukkan kalau Big Bertha mengkristal di lingkungan teroksidasi seperti Bumi dengan suhu terestrial 20 kilometer di bawah permkaan Bumi. Kondisi seperti itu tidak mungkin ditemukan di Bulan.

Kalau memang batu Big Bertha berasal dari Bumi, bagaimana bisa dia terdampar jauh di Bulan yang berjarak 384.400 kilometer?

Baca juga: Kali Pertama, Meteorit Hantam Permukaan Bulan saat Blood Moon

Lewat laporan yang terbit di jurnal Earth and Planetary Science Letters, para peneliti menduga Big Bertha terlontar dari Bumi sekitar 4 miliar tahun lalu, dipicu hantaman kuat dari asteroid atau komet. Di saat itu umur Bumi masih sangat muda, sekitar 540 juta tahun.

Selain masih muda. jarak Bumi dengan Bulan diketahui tiga kali lipat lebih dekat dibanding saat ini. Sehingga sangat mungkin batu-batu Bumi terlempar jauh hingga akhirnya mendarat di Bulan.

Jarak Bumi ke Bulan saat ini dibanding 4 miliar tahun lalu. Dulu, jarak Bumi ke Bulan tiga kali lebih dekat dibanding saat ini. Jarak Bumi ke Bulan saat ini dibanding 4 miliar tahun lalu. Dulu, jarak Bumi ke Bulan tiga kali lebih dekat dibanding saat ini.

"Ini adalah penemuan luar biasa yang bisa membantu kita mendapat gambaran yang lebih baik tentang wujud Bumi purba dan hantaman asteroid yang mengubah planet kita di awal kehidupan," ujar David Kring peneliti Pusat Penyelidikan Bulan (CLSE) yang mengembangkan teknik untuk mengamati batuan tersebut.

Kring yakin, asal usul batu ini bakal jadi kontroversial.

Meski ia memiliki penjelasan yang paling sederhana dan masuk akal, ada kemungkinan Big Bertha mengkristal di Bulan dalam kondisi yang belum diketahui dan pada kedalaman yang masih masif.

Sebab itu, tim ilmuwan Internasional percaya bahwa sampel Big Bertha bukan merupakan peninggalan dari hantaman asteroid atau komet.

Skenario lain, mungkin sampel itu terbentuk 26 juta tahun lalu ketika sebuah asteroid menghantam Bulan dan membentuk kawah berdiameter 340 meter. Kemudian ditemukan oleh astronot Apollo 14 dan baru sekarang asal usulnya diselidiki.

Baca juga: Tumbukan Meteorit Seukuran Bola Tenis Ciptakan Kawah 15 Meter di Bulan

Semoga saja akan ada sampel batuan lain yang didapat dari Bulan untuk mengungkap kebenarannya di masa datang.




Close Ads X