Sering Menimbun "File" Digital, Apakah Termasuk Gangguan Jiwa?

Kompas.com - 11/01/2019, 17:00 WIB
Perempuan di Swiss dijatuhi denda hingga Rp 21 juta setelah dinyatakan bersalah telah membuka email sang suami tanpa izin. Metro.co.ukPerempuan di Swiss dijatuhi denda hingga Rp 21 juta setelah dinyatakan bersalah telah membuka email sang suami tanpa izin.

"Salah satu hal pertama yang mereka katakan adalah, 'Yah, itu mungkin berguna di masa depan' —yang persis sama dengan yang dikatakan orang-orang di tempat kerja tentang email mereka," imbuhnya.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan awal tahun ini, Neave dan rekan-rekannya bertanya kepada 45 orang tentang cara mereka menangani email, foto, dan file lainnya.

Alasan orang menimbun file digital mereka beragam. Mulai dari kemalasan, beranggapan suatu saat mungkin berguna, kecemasan jika harus menghapus apa pun, dan bahkan membayangkannya untuk menjadikannya sebagai 'amunisi' untuk seseorang.

Baca juga: Jangan Sampai Kecanduan Gawai, Mulailah Detoks Digital

Tim ini telah menggunakan tanggapan tersebut untuk mengembangkan kuesioner yang bertujuan menilai perilaku penimbunan digital di tempat kerja. Mereka mengujinya terhadap 203 orang yang menggunakan komputer sebagai bagian dari pekerjaan mereka.

Temuan mereka menunjukkan bahwa email tampaknya menjadi masalah khusus: di antara peserta, rata-rata di kotak surel mereka terdapat 102 surel yang belum dibaca dan 331 surel yang sudah dibaca.

Alasan paling umum yang orang berikan untuk tidak menghapus email kantor adalah bahwa surel itu mungkin berguna. Kebanyakan orang beranggapan, semua email itu mengandung informasi yang mereka butuhkan untuk pekerjaan mereka.

Alasan lainnya adalah mereka dapat berfungsi sebagai bukti bahwa sesuatu pekerjaan telah dilakukan. Semua alasan tersebut memang benar-benar valid, tetapi juga berarti menambah lagi simpanan ratusan email yang mungkin tidak akan pernah Anda lihat lagi.

"Orang-orang sangat sadar bahwa ini adalah masalah, tetapi mereka terhambat oleh cara mereka biasanya melakukan sesuatu," kata Neave.

"Mereka menerima banyak sekali email ini dan mereka tidak bisa menyingkirkannya dan akhirnya jumlahnya makin banyak," sambungnya.

Neave memperingatkan bahwa penelitian ini masih baru dan kita belum cukup tahu untuk mengatakan apa yang 'normal' dan apa yang tidak.

Halaman:
Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X