Tsunami Senyap di Banten Bukan yang Pertama, Jejak Sejarah Mencatatnya

Kompas.com - 02/01/2019, 11:39 WIB
Pantauan udara garis pantai di kawasan Banten yang terdampak tsunami dari pesawat Cessna 208B Grand Caravan milik maskapai Susi Air, Minggu (23/12/2018). Bencana tersebut menimbulkan ratusan korban jiwa, sebagian luka-luka dan korban hilang serta kerusakan pada gedung-gedung, permukiman hingga kapal nelayanPenanganan darurat dampak bencana terus dilakukan pihak BNPB bersama TNI, Polri, Basarnas, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian PU Pera, Kementerian ESDM, dan embaga terkait terus bersama pemerintah daerah. KOMPAS/RIZA FATHONIPantauan udara garis pantai di kawasan Banten yang terdampak tsunami dari pesawat Cessna 208B Grand Caravan milik maskapai Susi Air, Minggu (23/12/2018). Bencana tersebut menimbulkan ratusan korban jiwa, sebagian luka-luka dan korban hilang serta kerusakan pada gedung-gedung, permukiman hingga kapal nelayanPenanganan darurat dampak bencana terus dilakukan pihak BNPB bersama TNI, Polri, Basarnas, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian PU Pera, Kementerian ESDM, dan embaga terkait terus bersama pemerintah daerah.

KOMPAS.com - Dahsyatnya gelombang tsunami Banten yang menyapu pantai Selat Sunda 11 hari lalu menjadi duka mendalam bagi para korban. Seperti maling, tsunami itu tiba-tiba datang dan mengambil semua yang berharga.

Tsunami senyap seperti ini sebenarnya bukan yang pertama di Indonesia.

Menurut catatan sejarah, pulau Lomblen atau dikenal Lembata yang ada di Kepulauan Nusa Tenggara juga pernah mengalami tsunami pada 18 Juli 1979.

Sama seperti Tsunami Banten, tsunami itu juga dipicu longsoran lereng (flank collapse).

Baca juga: Pasca Tsunami Banten, Puluhan Penyu Berhasil Diselamatkan

Warga setempat mengaku tidak merasakan guncangan gempa bumi sebelum tsunami Lomblen menerjang.

Lewat keterangan yang disampaikan Daryono, Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, catatan seismogram dari lokasi paling dekat yakni Stasiun Geofisika BMKG Kupang, tidak menunjukkan adanya aktivitas gempa tektonik di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebelum kejadian.

Tsunami ini tidak disebabkan aktivitas erupsi gunung api bawah laut.

"Laporan dari instansi terkait menunjukkan bahwa saat itu tidak terdapat aktivitas erupsi gunung api di sekitar Pulau Lomblen," kata Daryono dalam keterangan tertulisnya kepada Kompas.com, Selasa (1/1/2019).

Daryono memberikan beberapa catatan dan laporan yang memuat tentang tsunami Lomblen, NTT.

Dalam laporan Jonatan Lassa pada 2009, tsunami Lomblen disebabkan peristiwa longsoran gunung api.

Senada dengan Jonatan Lassa, tepat 30 tahun sebelumnya (1979) Hadian menyatakan bahwa tsunami Lomblen dipicu longsoran tebing pada sisi utara Gunung Werung.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X