Kompas.com - 26/12/2018, 18:08 WIB

Setelah diterpa letusan Gunung Sinabung, pada 22 Februari 2018, bencana geologi berupa tanah longsor terjadi di Desa Pasir Panjang, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Dampak dari tanah longsor ini menyebabkan 14 orang meninggal dunia, 15 orang dinyatakan hilang, dan korban luka 14 orang.

Menurut keterangan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho tanah longsor di Brebes sudah menunjukkan gejalanya dua minggu sebelum bencana terjadi. Ia menuturkan tanda tersebut berupa turunnya hujan yang sangat deras di kawasan tersebut dan munculnya rembesan mata air dari lereng perbukitan di Gununglio yang merupakan asal muasal longsor terjadi.

Kurang lebih, luas longsor mencapai 16,8 hektar, dengan panjang longsoran dari mahkota longsor sampai titik terakhir sekitar 1 kilometer.

"Lebar longsor di atas yang mahkota longsor 120 meter, sementara lebar bagian bawah 240 meter dengan ketebalan 5-20 meter perkiraan 1,5 juta meter kubik," kata dia.

Baca selengkapnya: BNPB: Tanda-tanda Longsor Brebes Sudah Ada Dua Pekan Sebelumnya

Gempa Lombok Agustus 2018

Pada bulan Juli 2018 (5/8/2018), gempa yang bermagnitudo 7,0 mengguncang wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Gempa yang berpusat pada di 8,37 LS dan 116,48 BT, dan berada pada 18 kilometer barat laut Lombok Timur dengan kedalaman 15 kilometer menyebabkan 564 orang yang meninggal dunia, 42.239 rumah, dan 458 sekolah rusak.

Menurut Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI) Danny Hilman, terjadinya gempa besar di Nusa Tenggara Barat diperkirakan bersumber dari satu bidang sesar yang sama.

Menurut dia, gempa bermagnitudo 7 pada Minggu (5/8/2018) terjadi karena ada satu bidang patahan dengan kemiringan 30 derajat bergerak sebesar dua hingga 3 meter.

Gempa tersebut bukanlah gempa pertama yang menerpa Lombok di bulan yang sama. Satu pekan sebelumnya, gempa dengan magnitude 6,4 mengguncang Lombok. Menurut Danny, gempa tersebut merupakan gempa pembuka rentetetan gempa lain yang terjadi di Lombok.

Baca selengkapnya: Mengapa Gempa Lombok Bisa Bermagnitudo Besar?

Gempa dan Tsunami Donggala, September 2018

Pada Jumat (28/9/2018), Sulawesi Tengah diguncang gempa dengan magnitudo 7,4. Dampak terburuk dari gempa ini adalah munculnya tsunami dengan ketinggian enam meter yang menyapu Donggala dan Palu sekitar pukul 17.22 WIB.

Gempa yang menyebabkan tsunami ini terjadi karena adanya aktivitas sesar Palu Koro. Sesar itu memanjang di wilayah Sulawesi Tengah dan sepertiganya menjorok ke lautan. Dampak dari bencana ini menyebabkan setidaknya 2.073 orang meninggal dunia.

Tidak hanya itu, gempa yang terjadi di Sulawesi Tengah juga memunculkan fenomena likuefaksi di kota Palu. Likuefaksi sendiri adalah ketika tanah yang tergetarkan akibat gempa kehilangan kekuatannya. Ini menyebabkan bangunan atau apapun yang berada di atas tanah tidak dapat ditahan oleh lapisan tanah.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.