Kompas.com - 26/12/2018, 18:08 WIB

KOMPAS.com – Perjalanan selama 2018, Indonesia diwarnai oleh berbagai bencana geologi yang menyebabkan kerugian mulai dari jiwa hingga materi.

Berdasarkan definisinya, bencana geologi adalah ketika kekuatan geologi secara alami seperti tsunami, gempa bumi, gunung meletus, dan tanah longsor, yang menyebabkan penghancuran yang berdampak pada kematian di suatu daerah.

Ironisnya, berdasarkan informasi BNPB, jika dibandingkan dengan tahun 2017 dan 2018, bencana di Indonesia mengalami peningkatan dalam jumlah korban dengan rincian 378 orang pada tahun 2017 dan 4231 orang pada tahun 2018.

Menengok kembali perjalanan selama tahun 2018, apa saja bencana geologi yang terjadi pada tahun ini?

Gempa Bumi Banten, Januari 2018

Pada 23 Januari 2018, gempa berkekuatan 6,1 magnitudo menguncang Kabupaten Lebak, Banten dengan dan merusak lebih dari 8.500 bangunan. Saking dasyatnya, gempa tersebut juga dirasakan pada beberapa wilayah di sekitarnya seperti Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian Jawa Tengah.

Menurut keterangan Kepala Bidang Indormasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono, gempa bumi di Lebak diakibatkan oleh aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempang Eurasia dan termasuk dalam klasifikasi gempa bumi berkedalaman dangkal,.

Kerusakan bangunan yang disebabkan oleh gempa banyak terjadi di Kabupaten Sukabumi dan Bogor, Jawa Barat karena wilayahnya yang berdekatan dengan Lebak sebagai episentrum gempa.

Baca selengkapnya: Apa yang Membuat Gempa Banten Bisa Mencapai Magnitudo 6,1?

Letusan Gunung Sinabung, Februari 2018

Senin, (19/2/2018) pukul 08.53 WIB, Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali meletus. Tinggi letusan gunung tersebut mencapai 5 km dan bertekanan kuat dengan warna kelabu kegelapan. Letusan juga disertai dengan luncuran awan panas sejauh 4,9 km ke arah selatan dan tenggara serta 3,5 km ke arah tenggara dan timur.

Untungnya, kejadian ini tidak menyebabkan korban jiwa. Hanya saja, fenomena ini mengganggu aktivitas masyarakat dalam radius 3 km, 7 km untuk wilayah selatan-tenggara, 6 km untuk sektor tenggara-timur, serta 4 km untuk sektor utara-timur Gunung Sinabung.

Selain itu, abu vulkanik juga menyelimuti sejumlah daerah di sekitar Gunung Sinabung, diantaranya Kecamatan Simpang Empat, Naman Teran, Payung, Tiga Nderket dan Munthe. Kondisi di lima kecamatan itu menjadi gelap dengan jarak pandang sekitar 5 meter. Selain itu, batuan kecil juga menghujani 5 kecamatan itu.

Baca selengkapnya: 5 Fakta Seputar Meletusnya Kembali Gunung Sinabung

Tanah Longsor Brebes, Februari 2018

Lokasi tanah longsor di Desa Pasirpanjang, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Sabtu (24/2/2018). Peristiwa ini megakibatkan lima orang tewas, 18 orang hilang, dan puluhan rumah rusak.KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO Lokasi tanah longsor di Desa Pasirpanjang, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Sabtu (24/2/2018). Peristiwa ini megakibatkan lima orang tewas, 18 orang hilang, dan puluhan rumah rusak.

Setelah diterpa letusan Gunung Sinabung, pada 22 Februari 2018, bencana geologi berupa tanah longsor terjadi di Desa Pasir Panjang, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Dampak dari tanah longsor ini menyebabkan 14 orang meninggal dunia, 15 orang dinyatakan hilang, dan korban luka 14 orang.

Menurut keterangan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho tanah longsor di Brebes sudah menunjukkan gejalanya dua minggu sebelum bencana terjadi. Ia menuturkan tanda tersebut berupa turunnya hujan yang sangat deras di kawasan tersebut dan munculnya rembesan mata air dari lereng perbukitan di Gununglio yang merupakan asal muasal longsor terjadi.

Kurang lebih, luas longsor mencapai 16,8 hektar, dengan panjang longsoran dari mahkota longsor sampai titik terakhir sekitar 1 kilometer.

"Lebar longsor di atas yang mahkota longsor 120 meter, sementara lebar bagian bawah 240 meter dengan ketebalan 5-20 meter perkiraan 1,5 juta meter kubik," kata dia.

Baca selengkapnya: BNPB: Tanda-tanda Longsor Brebes Sudah Ada Dua Pekan Sebelumnya

Gempa Lombok Agustus 2018

Pada bulan Juli 2018 (5/8/2018), gempa yang bermagnitudo 7,0 mengguncang wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Gempa yang berpusat pada di 8,37 LS dan 116,48 BT, dan berada pada 18 kilometer barat laut Lombok Timur dengan kedalaman 15 kilometer menyebabkan 564 orang yang meninggal dunia, 42.239 rumah, dan 458 sekolah rusak.

Menurut Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI) Danny Hilman, terjadinya gempa besar di Nusa Tenggara Barat diperkirakan bersumber dari satu bidang sesar yang sama.

Menurut dia, gempa bermagnitudo 7 pada Minggu (5/8/2018) terjadi karena ada satu bidang patahan dengan kemiringan 30 derajat bergerak sebesar dua hingga 3 meter.

Gempa tersebut bukanlah gempa pertama yang menerpa Lombok di bulan yang sama. Satu pekan sebelumnya, gempa dengan magnitude 6,4 mengguncang Lombok. Menurut Danny, gempa tersebut merupakan gempa pembuka rentetetan gempa lain yang terjadi di Lombok.

Baca selengkapnya: Mengapa Gempa Lombok Bisa Bermagnitudo Besar?

Gempa dan Tsunami Donggala, September 2018

Situasi Kota Palu yang porak poranda akibat bencana gempa bumi, likuifaksi, dan tsunami yang terjadi pada Jumat (28/9/2018). Ditjen Bina Marga menurunkan Tim Satgas Penanganan Bencana Gempa dan Tsunami Palu-Sigi-Donggala untuk membantu pemulihan infrastruktur wilayah.Dok. Humas Ditjen Bina Marga Kemen PUPR Situasi Kota Palu yang porak poranda akibat bencana gempa bumi, likuifaksi, dan tsunami yang terjadi pada Jumat (28/9/2018). Ditjen Bina Marga menurunkan Tim Satgas Penanganan Bencana Gempa dan Tsunami Palu-Sigi-Donggala untuk membantu pemulihan infrastruktur wilayah.

Pada Jumat (28/9/2018), Sulawesi Tengah diguncang gempa dengan magnitudo 7,4. Dampak terburuk dari gempa ini adalah munculnya tsunami dengan ketinggian enam meter yang menyapu Donggala dan Palu sekitar pukul 17.22 WIB.

Gempa yang menyebabkan tsunami ini terjadi karena adanya aktivitas sesar Palu Koro. Sesar itu memanjang di wilayah Sulawesi Tengah dan sepertiganya menjorok ke lautan. Dampak dari bencana ini menyebabkan setidaknya 2.073 orang meninggal dunia.

Tidak hanya itu, gempa yang terjadi di Sulawesi Tengah juga memunculkan fenomena likuefaksi di kota Palu. Likuefaksi sendiri adalah ketika tanah yang tergetarkan akibat gempa kehilangan kekuatannya. Ini menyebabkan bangunan atau apapun yang berada di atas tanah tidak dapat ditahan oleh lapisan tanah.

Baca selengkapnya: BMKG Ungkap Sebab Gempa Donggala Sulteng dan Mekanismenya

Letusan Gunung Soputan, Oktober 2018

Para Rabu, (3/10/2018) Gunung Soputan di Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara, meletus. Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, tinggi kolom abu vulkanik teramati sekitar 4.000 meter di atas puncak kawah atau 5.809 meter di atas permukaan laut.

Dampak dari bencana geologi ini membuat masyarakat tidak bisa beraktivitas di seluruh area dalam radius 4 km dari puncak Gunung Soputan. Khusus untuk warga di wilayah barat dan barat daya juga diminta meninggalkan sejauh 6,5 kilometer dari puncak Gunung Soputan yang merupakan daerah bukaan kawah demi menghindari guguran lava atau awan panas.

Melihat dari fenomenanya yang terjadi selang satu bulan setelah gempa Donggala, banyak yang mengaitkan fenomena tersebut saling berhubungan. Namun menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kasbani, gunung Soputan sudah menujukkan aktivitasnya sejak Juli 2018 jauh sebelum fenomenan gempa Donggala.

Baca selengkapnya: Soputan dan Gamalama Erupsi, Apa Gempa dan Letusan Gunung Menular?

Letusan dan Tsunami Krakatau, Desember 2018

Tampak salah satu area di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang sebagai wilayah terparah diterjang tsunami Selat Sunda, Selasa (25/12/2018).KOMPAS.com/DEAN PAHREVI Tampak salah satu area di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang sebagai wilayah terparah diterjang tsunami Selat Sunda, Selasa (25/12/2018).

Menutup tahun 2018, Indonesia dilanda bencana yang tidak terduga. Pada Sabtu (22/12/2018), tsunami senyap menghempas wilayah Selat Sunda dan berdampak pada wilayah daratan seperti Banten dan Lampung.

Hampir 90 persen tsunami terjadi akibat gempa tektonik yang berada pada magnitudo yang cukup besar. Permasalahannya, pada kasus Selat Sunda, tidak terdeteksi gempa tektonik fenomena ini awalnya hanya gelombang tinggi saja. Namun melalui citra satelit milik BPPT, menunjukkan ada 64 hektar area Anak Gunung Krakatau yang longsor dan diduga menjadi penyebab tsunami.

Diamine oleh BMKG, bahkan longsoran wilayah tersebut setara dengan gempa yang berkekuatan 3,4 M. Ditambah dengan fenomena lainnya seperti angina kencang, membuat aliran air melaju deras dan menciptakan tsunami yang menghempas wilayah Banten dan Lampung Selatan.

Hingga saat ini, tercatat 430 orang meninggal dunia, 1.495 luka-luka, dan 159 orang hilang, akibat dari tsunami ini. Fenomena ini juga turut merenggut nyawa beberapa anggota grup band Seventeen serta komedian Ade Jigo.

Baca selengkapnya: Akhirnya Didapatkan, Skenario Terkuat Tsunami Selat Sunda dan Dasarnya

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.