Bukan karena Gempa Palu, Ini Penyebab Gunung Soputan Erupsi

Kompas.com - 19/12/2018, 08:35 WIB
Letusan stromboli Gunung Soputan dengan estimasi ketinggian 400 m dari puncak, terpantau dari Desa Lobu, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, Rabu (3/10/2018). Letusan stromboli tersebut disertai leleran lava pijar ke arah Timur Laut, dengan estimasi jarak luncur 2500 m serta kolom letusan setinggi 2000-3000 m dari puncak. ANTARA FOTO/ADWIT B PRAMONOLetusan stromboli Gunung Soputan dengan estimasi ketinggian 400 m dari puncak, terpantau dari Desa Lobu, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, Rabu (3/10/2018). Letusan stromboli tersebut disertai leleran lava pijar ke arah Timur Laut, dengan estimasi jarak luncur 2500 m serta kolom letusan setinggi 2000-3000 m dari puncak.


KOMPAS.com - Pasca Gunung Soputan yang ada di semenanjung Minahasa, Sulawesi Utara erupsi, banyak yang bertanya apakah ada hubungannya dengan fenomena gempa dan tsunami Palu.

Menjawab pertanyaan itu, Kepala bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono menegaskan tidak ada hubungannya.

"(Gunung Soputan erupsi) akibat banyak gempa kuat terjadi di sekitar Soputan dalam dua bulan terakhir," terang Daryono kepada Kompas.com, Rabu (19/12/2018).

Berdasar data dari sumber resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, data aktivitas gunung Soputan sejak Agustus hingga awal Oktober 2018 mengalami peningkatan signifikan.

Baca juga: Erupsi Gunung Soputan Sudah Terpantau dari Senin Lalu

Berikut analisis Daryono yang juga Vice President Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Divisi Mitigasi Bencana Kebumian terkait aktivitas Gunung Soputan.

Pada 3 Oktober 2016 pukul 01.00 WITA tingkat aktivitas Gunung Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Periode erupsi Gunung Soputan kemudian terjadi pada 3 sampai 4 Oktober 2018.

Setelah itu aktivitas Gunung Soputan cenderung mengalami penurunan, namun pada Sabtu (15/12/2018) mulai pukul 17.00 WITA data seismik menunjukkan adanya peningkatan yang cepat dan signifikan.

"Peningkatan kegempaan terus terjadi dan akhirnya pada Minggu 16 Desember 2018 pukul 01.02 WITA terekam gempa letusan dengan amplitudo maksimum 40 mm (overscale) dengan durasi 598 detik, disertai suara gemuruh yang terdengar dengan intensitas lemah-sedang dari Pos Pengamatan Gunung Soputan yang berada di Silian Raya (sekitar 10 km di sebelah Baratdaya puncak Gunung Soputan)," tulis Daryono dalam analisis resminya yang diterima Kompas.com.

Pada hari Minggu 16 Desember 2018 sekitar pukul 03.09 WITA teramati sinar api di atas puncak Gunung Soputan dan tinggi kolom erupsi ± 3.000 m di atas puncak (± 4.809 m di atas permukaan laut) dengan kolom abu berwarna kelabu dan intensitas tebal.

Selanjutnya pada pukul 05.40 WITA tinggi kolom erupsi ± 7.000 m di atas puncak (± 8.809 m di atas permukaan laut) dengan kolom abu berwarna kelabu dan intensitas tebal.

Gempa Tektonik

Secara tektonovolkanik, aktivitas gempa bumi signifikan yang terjadi di sekitar gunung api dapat meningkatkan aktivitas vulkanisme.

Meningkatnya aktivitas sebuah gunung api dapat berkaitan dengan dinamika tektonik di sekitar kantung magma.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X