Mungkinkah Batu Ini Ungkap Tempat Kelahiran Anak Manusia? - Kompas.com

Mungkinkah Batu Ini Ungkap Tempat Kelahiran Anak Manusia?

Kompas.com - 03/12/2018, 17:31 WIB
Sebuah alat batu yang baru digali di situs Ain Boucherit, usianya diperkirakan 2,4 juta tahun. Sebuah alat batu yang baru digali di situs Ain Boucherit, usianya diperkirakan 2,4 juta tahun.

KOMPAS.com - Para arkeolog di Aljazair, Afrika Timur, menemukan alat batu dan potongan tulang binatang yang diperkirakan berusia 2,4 juta tahun. Hasil yang diterbitkan di jurnal Science, Kamis (29/11/2018), sekaligus mempertanyakan status Afrika Timur sebagai tempat kelahiran umat manusia.

Dilansir Gizmodo, Kamis (29/11/2018), kedua bukti itu menunjukkan bahwa kerabat hominin kita sudah ada Afrika bagian utara jauh lebih awal dari yang diperkirakan para arkeolog.

Penemuan spesial ini merupakan kelanjutan dari studi 2006, di mana Mohamed Sahnouni penulis utama dan seorang arkeolog di Pusat Penelitian Spanyol menemukan beberapa artefak menarik di situs Ain Boucherit, tepatnya di timur laut Aljazair dekat kota El-Eulma.

Baca juga: Kontroversi Fosil Tertua di Dunia, Kini Diduga Cuma Batu Kuno

Benda-benda itu tertanam dalam lapisan sedimen di jurang yang dalam.

Dua tahun kemudian, Sahnouni menemukan benda lain di situs tersebut, salah satunya bahkan lebih tua.

Sejak 2009 sampai 2016, ia dan timnya bekerja keras melakukan penggalian di Ain Boucherit untuk mengumpulkan segudang alat batu dan sisa-sisa hewan yang dibantai.

Dilansir AFP, Jumat (30/11/2018), alat batu ditemukan dekat lusinan tulang binatang yang membatu, termasuk nenek moyang buaya, gajah, dan kuda nil.

Menggunakan beberapa teknik penanggalan, Sahnouni dan timnya berhasil mengungkap umur dua batuan yang dijuluki AB-Up dan AB-Lw, masing-masing berusia 1,9 juta dan 2,4 juta tahun.

Dengan hasil tersebut, menjadikan keduanya sebagai artefak tertua yang diketahui di Afrika Utara. Studi di akhir 1990-an menemukan alat batu tertua yang berusia 1,8 juta tahun di situs bernama Ain Hanech.

Menurut ahli, batuan AB-Lw yang berumur 2,4 juta tahun, usianya 600.000 tahun lebih tua dari yang ditemukan di Ain Hanech dan 200.000 tahun lebih muda dari alat tertua di dunia yang ditemukan di Afrika Timur, yakni alat batu Gona, Ethiopia yang berusia 2,6 juta tahun.

Para arkeolog dunia sebelumnya percaya bahwa hominin awal berevolusi di Afrika dan menyebar ke utara sekitar satu juta tahun kemudian. Namun, temuan terbaru ini menunjukkan penyebaran ternyata sudah dilakukan jauh sebelumnya.

Untuk diketahui, spesies manusia modern atau Homo sapiens muncul 300.000 tahun lalu.

Jadi, homonin misterius yang membuat alat-alat batu itu mungkin sudah berkumpul di sekitar Afrika timur dan utara sejak 2,3 juta tahun sebelum manusia modern muncul.

Ini menunjukkan, Afrika Utara bukan hanya tempat nenek moyang kita hidup dan mengembangkan alat, tapi Sahnouni juga percaya itu adalah tempat moyang kita berevolusi.

"Situs Ain Boucherit adalah yang tertua kedua di dunia setelah Gona di Ethiopia yang berusia 2,6 juta tahun. Ini secara luas dianggap sebagai tempat kelahiran manusia," kata Sahnouni kepada AFP.

Untuk melakukan penanggalan, Sahnouni dan rekannya menggunakan tiga teknik berbeda, yakni magnetostratigraphy, Electron Spin Resonance (ESR) dating, dan analisis biochronological dari tulang-tulang hewan yang ditemukan bercampur dengan alat.

Baca juga: Inilah Tahun Terburuk dalam Sejarah Manusia, Menurut Sains

Pro Kontra penemuan

Seorang arkeolog dari Universitas Oxford Eleanor Scerri yang tidak terlibat dalam penelitian mengaku kagum dengan apa yang dilakukan Sahnouni dan rekannya. Pasalnya, melakukan penanggalan akurat pada hominin kuno adalah sesuatu yang sangat sulit dilakukan.

Meski ketiga metode itu sukses memprediksi usia batuan, arkeolog lain mengaku teknik ini mengandung ketidakpastian dan asumsi.

Salah satunya yang tidak senang dengan teknik penanggalan ini adalah Jean-Jacques Hublin, peneliti dari Institut Mac Planck ahli Antropologi Evolusi.

"Klaim luar biasa membutuhkan bukti luar biasa dan seseorang dapat memiliki beberapa keberatan mengenai usia yang diusulkan untuk situs Ain Boucherit dan Ain Hanech," kata Hublin kepada Gizmodo.

"Paleomagnetisme bukan metode penanggalan. Ini (paleomagnetisme) membantu membatasi tanggal yang diperoleh dengan metode lain dan tunduk pada berbagai interpretasi."



Close Ads X