Fosil Paus Prasejarah Ungkap Tahapan Evolusi Mulut Penguasa Laut

Kompas.com - 30/11/2018, 18:02 WIB
Seekor hiu paus berenang di samping kantung plastik di Teluk Aden dekat Yemen. Walaupun hiu paus adalah hewan terbesar di lautan, mereka masih terancam oleh sampah kita. THOMAS P. PESCHAK, NATIONAL GEOGRAPHIC CREATIVESeekor hiu paus berenang di samping kantung plastik di Teluk Aden dekat Yemen. Walaupun hiu paus adalah hewan terbesar di lautan, mereka masih terancam oleh sampah kita.

KOMPAS.com - Fosil paus prasejarah dengan panjang 4,5 meter menjadi kunci penting untuk menjawab misteri mengapa paus makan dengan cara menyaring makanan.

Dalam studi yang terbit di Current Biology, Kamis (29/11/2018), paus berusia 33 juta tahun yang ditemukan di Oregon, negara bagian AS, diketahui tidak memiliki gigi.

Padahal, puluhan juta tahun sebelumnya paus merupakan predator bergigi. Ini artinya, beberapa juta tahun kemudian paus berevolusi kehilangan gigi dan saat ini menjadi mamalia laut yang makan dengan cara menyaring makanannya.

Paus modern memiliki sistem penyaring makanan yang disebut balin. Balin tersusun dalam plat di rahang atas dan berguna untuk memisahkan makanan dari air.

Baca juga: Bukan Cuma Anda, Paus Bungkuk Juga Suka Ganti-ganti Lagu

Sayangnya para ahli belum dapat merekonstruksi apa yang terjadi selama transisi dari paus bergigi ke mulut penyaring. Mereka hanya berasumsi bahwa sistem penyaring makanan muncul setelah paus kehilangan semua gigi mereka.

Fosil tengkorak yang aneh

Ilustrasi paus Maiabalaena nesbittae yang hidup 33 juta tahun lalu dan memiliki mulut pengisap. Ilustrasi paus Maiabalaena nesbittae yang hidup 33 juta tahun lalu dan memiliki mulut pengisap.

Melansir New Scientist, Kamis, (29/11/2018), tim peneliti yang dipimpin Carlos Peredo dari George Mason University, Virginia mengamati paus berusia 33 juta tahun (Maiabalae nanesbittae) dengan menggunakan CT scan. Hasilnya menunjukkan paus tersebut tidak memiliki alveoli atau soket gigi.

Menurut ahli, struktur mulut M. nanesbittae berbeda dengan paus yang memiliki balin. Artinya, mereka juga tidak mampu menyaring makanan.

"Paus ini mewakili tahap peralihan yang mengejutkan antara paus dengan mulut penyaring dan moyang mereka yang bergigi," kata Peredo.

"Studi kami menunjukkan bahwa paus bergigi dan paus dengan balin tidak mungkin ada di periode yang sama," imbuhnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X