Kompas.com - 23/11/2018, 18:03 WIB
Ilustrasi paus beluga atau paus putih DoungJi HongIlustrasi paus beluga atau paus putih


KOMPAS.com - Para ahli dari Baylor University di Texas, AS, menggunakan metode unik untuk mencari tahu penyebab paus menjadi stres. Jawaban dari pertanyaan ini, mungkin kitalah yang patut disalahkan.

Dalam laporan yang terbit di jurnal Nature Communications edisi 2 November 2018, tim mempelajari kotoran telinga paus bungkuk dan paus biru yang hidup di samudra Atlantik antara tahun 1870 sampai 2016. Ini adalah studi pertama yang mengamati stres pada paus dari waktu ke waktu.

Kotoran telinga paus berasal dari earplug laminae, lapisan pertumbuhan yang ditemukan pada kotoran telinga paus ini didapat dari koleksi museum.

Dengan mempelajari lapisan ini, para ahli dapat memeriksa kadar kortisol atau hormon yang merespon stres pada paus dan mencocokkannya dengan momen terpenting dalam sejarah.

Baca juga: Teguran buat Kita, Paus yang Mati di Wakatobi Tercemar 5 Kg Plastik

Menariknya, tingkat kortisol meningkat pesat pada 1960-an, saat penangkapan paus mencapai puncaknya yakni sekitar 150.000 ekor. Ini mewakili tingkat kortisol tertinggi yang ditemukan pada abad ke-20.

Selain itu, paus juga sangat stres ketika perburuan paus meningkat pada 1920-an sampai 1930-an.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain gara-gara penangkapan paus, tingkat kortisol meningkat selama Perang Dunia II. Meski penangkapan paus menurun saat itu, tapi stres yang dialami paus mungkin karena kegiatan selama perang itu sendiri.

"Tingkat stres yang terkait dengan Perang Dunia II mungkin menggantikan stres karena perburuan paus secara masal," kata Dr Sascha Usenko, salah satu rekan penulis dalam sebuah pernyataan dilansir IFL Science, Kamis (22/11/2018).

"Kami menduga peledakan bawah laut, pertempuran kapal dan kapal selam, juga peningkatan jumlah kapal yang berlalu lalang di laut selama Perang Dunia II berkontribusi pada peningkatan konsentrasi kortisol," imbuhnya.

Sementara itu, tingkat kortisol paus mencapai titik terendah adalah pada pertengahan 1970-an, saat penangkapan paus turun drastis dan di belahan bumi utara dilaporkan penangkapannya nol.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.