Ditemukan, Bakteri Laut di Samudra Pasifik yang Mengonsumsi CO2

Kompas.com - 27/11/2018, 18:07 WIB
Matahari terbenam di atas Samudra Pasifik, terlihat dari Stasiun Luar Angkasa NASA/WikipediaMatahari terbenam di atas Samudra Pasifik, terlihat dari Stasiun Luar Angkasa

KOMPAS.com – Sebuah temuan tidak terduga terjadi di kedalaman laut 4.000 meter. Sekelompok ilmuwan yang sedang mempelajari ekosistem di Zona Fraktur Clarion-Clipperton (CCFZ), di Samudra Pasifik antara Meksiko dan Hawaii, menemukan bakteri yang mampu mengonsumsi karbon dioksida (CO2).

Dilansir dari IFL Science, Rabu (21/11/2018), para peneliti menganalisis sampel sedimen yang diambil dari daerah CCFZ yang berlokasi di sebelah barat Meksiko, dan menemukan bahwa bakteri dasar laut di wilayah tersebut mengonsumsi karbon dioksida dalam jumlah yang besar.

"Kami menemukan bahwa bakteri laut mengambil karbon dioksida dalam jumlah besar dan mengasimilasikannya ke dalam biomassa mereka melalui proses yang tidak diketahui. Biomassa tersebut kemudian berpotensi menjadi sumber makanan bagi biota lain di laut dalam," ujar Andrew Sweetman peneliti dari Heriot-Watt University, Inggris yang memipin studi ini.

Baca juga: Pemanasan Global, Mineral Ini Bisa Serap Karbon Dioksida di Atmosfer

Ia melanjutkan, bakteri di wilayah tersebut hanya membutuhkan waktu satu sampai dua hari untuk mengonsumsi sampah organik yang menghasilkan karbon dioksida. Jika diukur secara umum, apa yang bakteri hasilkan setara dengan memperbaiki sekitar 200 juta ton karbon dioksida menjadi biomassa setiap tahunnya.

Uniknya, kondisi ini tidak hanya terjadi di wilayah CCFZ.

"Ini setara dengan menghilangkan sekitar 10 persen karbon dioksida setiap tahun, jadi ini merupakan bagian penting dari siklus karbon laut dalam. Kami menemukan kegiatan yang sama di beberapa lokasi penelitian yang dipisahkan oleh ratusan kilometer, jadi kami bisa berasumsi bahwa ini terjadi di CCFZ timur dan mungkin di seluruh CCFZ," jelas Sweetman.

Menurut studi yang diterbitkan pada jurnal Limnology and Oceanography ini, CCFZ merupakan daerah yang saat ini sedang dieksplorasi untuk pengembangan pertambangan nikel, tembaga, dan kobalt. Andrew Sweetman dan timnya kemudian melakukan survei untuk menilai keanekaragaman hayati di wilayah CCFZ dan memahami dampak penambangan laut dalam.

Baca juga: Inggris Kekurangan Pasokan Karbon Dioksida, Apa Artinya?

Melansir dari Newsweek, Sweetman berpendapat bahwa setiap kegiatan penambangan yang dilakukan di laut bisa merusak dasar laut hingga ratusan kilometer. Sementara itu, CCFZ sendiri merupakan rumah bagi spons laut dalam, anemon laut, udang, octopoda dan mikroba lain yang salah satunya mengonsumsi karbon dioksida.

"Oleh karena itu, penambangan laut dalam dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap mikroba yang secara aktif menghilangkan CO2. Jika sejumlah besar CO2 dikonsumsi setiap tahun oleh komunitas mikroba di dalam wilayah penambangan, penambangan dapat secara tidak sengaja mempengaruhi jasa ekosistem penting di laut dalam,” jelas Sweetman.

Sweetman berkata bahwa penelitian lebih lanjut untuk memahami dampak penambangan pada ekosistem laut harus dilakukan sebelum kegiatan penambangan dimulai.

"Kami perlu mengeksplorasi proses ini secara lebih rinci. Saat ini, kami tidak tahu dari mana energi untuk fiksasi CO2 berasal, dan apa yang bakteri perbaiki dalam biomassa mereka. Begitu kami mengetahui hal ini, kami akan dapat mulai menginterogasi data yang tersedia pada keragaman mikroba di laut dalam dan menilai di mana proses ini dimulai," pungkas Sweetman.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X