Bukan Kesuburan, Hujan Justru Membawa Kematian di Gurun Ini - Kompas.com

Bukan Kesuburan, Hujan Justru Membawa Kematian di Gurun Ini

Kompas.com - 16/11/2018, 17:35 WIB
Gurun Atacama di Cile utara mendapat predikat sebagai tempat terkering di dunia.EPA via BBC Gurun Atacama di Cile utara mendapat predikat sebagai tempat terkering di dunia.

KOMPAS.com - Hujan biasanya dianggap sebagai berkah karena memberi kehidupan secara universal. Tapi ternyata, hal tersebut tidak berlaku di gurun Atacama, Chile.

Bahkan, di tengah gurun paling kering dan tandus itu, terjadi fenomena anomali. Hujan justru membawa kematian bukannya kesuburan.

Wilayah pusat gurun Atacama itu diperkirakan berada dalam kondisi sangat gersang selama 15 jut tahun terakhir. Menurut catatan, dalam 500 tahun terakhir, tidak ada curah hujan signifikan di wilayah itu.

Namun, hal ini berubah secara tiba-tiba beberapa tahun lalu. Saat itu, terjadi hujan yang sangat langka pada Maret dan Agustus 2015 serta berulang pada Juni 2017 lalu.

Sayangnya, hujan-hujan tersebut malah menjadi bencana bagi ekosistem di gurun tersebut. Ini mirip peribahasa "Kemarau setahun dihapus hujan sehari".

Bentuk-bentuk kehidupan yang telah berevolusi untuk bertahan di tempat gersang itu tidak bisa mengatasi perubahan mendadak tersebut. Perubahan mendadak itu membawa mereka (kehidupan di Atacama) pada gerbang kematian.

"Ketika hujan datang ke Atacama, kami berharap untuk melihat kesuburan yang besar dan berseminya kehidupan di sana," ungkap Alberto Fairen, ahli astrobiologi dari Cornell University dikutip dari Science Alert, Kamis (15/11/2018).

"(Peristiwa yang terjadi justru) sebaliknya, kami belajar kontrasnya, karena kami menemukan bahwa hujan di pusat paling gersang di Gurun Atacama menyebabkan kepunahan besar-besaran sebagian besar spesies mikroba pribumi di sana," imbuhnya.

Baca juga: Kisah di Balik Foto Piring Terbang yang Ditemukan NASA di Gurun Utah

Untuk diketahui, contoh tanah Atacama yang diambil di area bernama Yungay sebelum hujan mengguyur menunjukkan adanya 16 jenis spesies mikroba berbeda.

Namun, setelah peristiwa hujan aneh terjadi, beberapa wilayah gurun meninggalkan genangan air. Sampel tanah yang diambil setelah hujan menunjuukan populasi mikroba di Yungay mengalami kepunahan massal.

Sekitar 75 hingga 87 persen spesies mikroba menghilang. Padagal, mikroba tersebut diketahui membantu kehidupan yang berkembang di bagian lain padang pasir.

"Setelah hujan, hanya ada dua hingga empat spesies mikroba yang ditemukan di laguna," kata Fairen.

"Hasil kami menunjukkan untuk pertama kali memberikan air dalam jumlah besar secara tiba-tiba pada mikroorganisme - yang biasanya mengekstrak sedikit air dan kelembapan dari lingkungan yang sangat kering - justru akan membunuh mereka dengan guncangan osmotik," tambahnya.

Guncangan osmotik yang dimaksud Fairen adalah ketika zat-zat terlaurt dalam cairan di sekitar sel tiba-tiba berubah konsentrasinya. Pada gilirannya, hal ini dengan cepat mengubah bagaimana air mengalir melalui membran sel dan menyebabkan stres akut.

Biasanya, masing-masing spesies yang telah berevolusi memiliki cara berbeda untuk bertahan melawan tekanan ini. Tapi, itu tidak berlaku untuk mikroba di Yungay, Atacama.

Meski nasib mikroorganisme tersebut suram, temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports ini juga memiliki sisi positif. Pasalnya, para peneliti jadi punya pemahaman baru tentang bagaimana mikroba bisa beradaptasi untuk bertahan hidup di dunia alien dan tandus.

Baca juga: Peneliti Sebut Gurun Sahara Bisa Menghijau, Asal...

"Studi Atacama kami menunjukkan bahwa terulangnya air cair di Mars bisa berkontribusi pada hilangnya kehidupan di Mars, jika pernah ada," ucap Fairen.

"(Itu) tidak mewakili kesempatan mikrobiota tangguh untuk bersemi kembali," sambungnya.



Close Ads X