Millenial dan Bahasa Jawa Krama yang Dikhawatirkan Punah - Kompas.com

Millenial dan Bahasa Jawa Krama yang Dikhawatirkan Punah

Kompas.com - 15/11/2018, 07:06 WIB
Sejumlah penari menampilkan Tari Jaranan Slining Lumajang pada Eksotika Bromo di Lautan Pasir kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Probolinggo, Jawa Timur, Jumat (29/6/2018). Pertunjukan yang menampilkan sejumlah tarian tradisional dan kontemporer seperti Kidung Tengger, parade jaranan Tengger, Reog Ponorogo, topeng hudoq Dayak Kalimantan Timur dan beberapa kesenian lainnya tersebut digelar untuk menyambut Hari Raya Yadnya Kasada.ANTARA FOTO/ZABUR KARURU Sejumlah penari menampilkan Tari Jaranan Slining Lumajang pada Eksotika Bromo di Lautan Pasir kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Probolinggo, Jawa Timur, Jumat (29/6/2018). Pertunjukan yang menampilkan sejumlah tarian tradisional dan kontemporer seperti Kidung Tengger, parade jaranan Tengger, Reog Ponorogo, topeng hudoq Dayak Kalimantan Timur dan beberapa kesenian lainnya tersebut digelar untuk menyambut Hari Raya Yadnya Kasada.

Oleh 

DI antara jutaan bahasa di seluruh dunia, ada beberapa bahasa yang hampir punah sebab penuturnya sudah sangat sedikit. Atlas interaktif UNESCO tentang bahasa dunia yang dalam zona merah menunjukkan bahwa terdapat 2464 bahasa di seluruh dunia terancam punah.

Dari jumlah itu, 144 bahasa (5,8%) di antaranya adalah bahasa yang ada di kepulauan Indonesia. Status ini menjadikan Indonesia sebagai negara keempat yang paling rentan dalam pelestarian bahasa daerah setelah India, Amerika Serikat, dan Brazil.

Dengan lebih dari 700 bahasa yang hidup di Indonesia, bahasa-bahasa minoritas memiliki beragam tantangan besar untuk bertahan.

Ini terjadi karena beberapa faktor kemungkinan, seperti status yang ‘rendah’, seringkali tidak terdokumentasikan, ranah penggunaannya yang terbatas, stigma sebagai sesuatu yang ‘kuno’, dan fakta bahwa bahasa minoritas tidak digunakan dalam pemerintahan, sekolah, dan media.

Tidak hanya bahasa minoritas, bahasa mayoritas seperti bahasa Jawa dan Bali yang penuturnya mudah ditemui juga mulai terancam kelestariannya, setidaknya pada sub-sistem bahasa seperti Jawa Krama.

Karena banyak individu bermigrasi ke perkotaan dan karena mereka melihat bahwa perkembangan finansial dan sosial mereka dalam kehidupan sehari-hari begitu terikat pada penggunaan bahasa Indonesia, dan bahkan bahasa Inggris, kecenderungan untuk tetap menggunakan bahasa ibu mereka menjadi berkurang.

Bahasa, dalam fungsinya, tidak terbatas sebagai alat komunikasi tapi juga berkontribusi dalam membingkai cara seseorang membangun pemikiran dan perasaan tentang bagaimana mereka melihat dunia. Hilangnya sebuah bahasa berarti hilangnya sebuah perspektif untuk melihat dunia.

Negara yang beragam, seperti Indonesia, memiliki tantangan tersendiri dalam penggunaan dan pelestarian bahasa.

Bahasa Jawa mulai memudar

Banyak penelitian menunjukkan bahwa bahasa Jawa, dengan lebih dari 80 juta penutur, memiliki kecenderungan untuk diklasifikasikan sebagai bahasa yang rentan di beberapa daerah.

Secara spesifik terdapat suatu sub-sistem bahasa Jawa yang mulai pudar, yakni bahasa Jawa ragam Krama. Pudarnya penggunaan ragam Krama ini sudah terdeteksi setidaknya sejak 1998 dalam penelitian Joseph Errington di Yogyakarta dan Surakarta.

Perubahan pada penggunaan bahasa Jawa terjadi dengan cepat tidak hanya di daerah perkotaan, tapi juga di daerah pedesaan.

Banyak orang tua suku Jawa menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa percakapan di rumah karena mereka percaya bahwa Bahasa Indonesia dapat memberikan peluang yang lebih baik untuk masa depan anak-anak mereka.

Bercakap dalam Jawa Krama yang “benar”

Dalam penelitian lapangan yang saya lakukan tentang sikap bahasa masyarakat terhadap Jawa Krama pada dua belas partisipan yang tersebar di wilayah Kediri, Jawa Timur; sebagian besar partisipan yang berusia kurang dari 25 tahun lebih memilih untuk menggunakan Bahasa Indonesia ketika bercakap dengan penutur bahasa Jawa yang lebih tua, bahkan di daerah berbahasa Jawa umum digunakan.

Kaum milenial Jawa ini menganggap diri mereka memiliki kemampuan yang terbatas dalam menggunakan Krama secara aktif karena mereka merasa cemas dalam memilih kata-kata yang tepat ketika percakapan berlangsung.

Kekhawatiran mereka didukung oleh satu partisipan berusia lebih dari 25 tahun yang mengatakan, “Lebih baik mereka menggunakan Bahasa Indonesia daripada menggunakan bahasa Jawa tapi sering salah”.

Bahasa Jawa sangat terkenal tingkat tuturnya yang rumit dan “berkasta”. Sebagai contoh, penggunaan kata ‘pergi’ yang dalam bahasa Jawa berarti lunga (ragam Ngoko), kesah (ragam Madya), dan tindak (ragam Krama).

Keberhasilan fungsi sistem bahasa Jawa juga ditentukan oleh pengetahuan rinci tentang kedudukan sosial individu dalam percakapan, yang tampaknya kurang dipahami oleh generasi muda karena tidak cukup didukung oleh lingkungan.

Namun, kabar baik dari penelitian ini adalah terlepas dari keterampilan generasi muda yang terbatas dalam penggunaan Jawa Krama, mereka masih sangat bersemangat untuk mempelajari variasi Jawa Krama tersebut.

Bukan hanya untuk merangkul kearifan lokal, tapi juga karena beberapa dari mereka dapat menikmati manfaat langsung dari penggunaan Jawa Krama dalam kehidupan sehari-hari.

Suatu bahasa mendapat pengakuan ketika ia dapat digunakan di ranah publik untuk mengakses layanan-layanan publik. Dalam masyarakat linguistik majemuk, pengakuan publik terkait erat dengan domain tempat suatu bahasa digunakan.

Mengajarkan bahasa daerah di sekolah adalah tindakan yang tepat, tapi menerapkan bahasa daerah sebagai bahasa percakapan itu urusan lain. Singkatnya, ‘mengajarkan’ dan ‘membiasakan’ adalah hal yang berbeda.

Penggunaan bahasa Jawa di era milenial

Beberapa makalah populer dan ilmiah menekankan kekhawatiran berbagai kalangan bahwa generasi muda saat ini tidak dapat berbahasa Jawa dengan benar, bahkan ketika standar “benar” itu sendiri kurang jelas.

Penutur bahasa Jawa dari generasi yang berbeda bisa jadi memiliki persepsi yang berbeda untuk bercakap dengan “bahasa Jawa yang benar”.

Namun, yang jauh lebih sedikit diamati dan yang diberitakan media, sebenarnya banyak sekali peneliti, guru, aktivis, dan penutur bahasa Jawa generasi milenial menunjukkan ketertarikan dan pergerakan yang baik untuk kembali ke akar mereka sebagai orang Jawa.

Banyak masyarakat milenial mempopulerkan karya-karya dengan muatan lokal bahasa Jawa.

Youtuber Bayu Skak, komposer musik nasional muda Eka Gustiwana, dan grup musik hip hop Jogja Hip Hop Foundation (JHF) adalah contoh dari seniman muda Jawa yang bersemangat untuk mempromosikan budaya Jawa melalui berbagai jenis media, seperti musik dan film. Mereka mendistribusikan karya mereka melalui media sosial yang memiliki jutaan pengikut.

Sebuah surat kabar nasional melaporkan bahwa Kementerian Agama membuat terjemahan Alquran dalam bahasa daerah. Ini menunjukkan bahwa pelestarian bahasa dilakukan tidak hanya melalui pendidikan formal, tapi juga melalui pendekatan religius.

Selanjutnya, Jawa Krama juga dipopulerkan sebagai bahasa pengumuman resmi di bandara internasional, tempat orang-orang dari berbagai tempat dan kebangsaan berkumpul. Setidaknya ada dua bandara internasional yang mempromosikan bahasa Jawa sebagai bahasa pengumuman mereka, yakni Bandara Adisucipto di Yogyakarta dan Bandara Internasional Dubai.

Sikap positif masyarakat suku Jawa terhadap Jawa Krama dapat dianggap sebagai pertanda baik untuk menghidupkan kembali Jawa Krama dalam kehidupan sehari-hari.

Memang, kita harus menyadari fakta bahwa penggunaan Jawa Krama menurun dari waktu ke waktu dan itu adalah sesuatu yang harus kita perhatikan. Meski demikian, kita tidak boleh pesimistis terhadap generasi muda tentang semangat dan kemampuan mereka dalam mempertahankan sub-sistem bahasa Jawa yang “terancam” ini.

Konservasi bahasa lokal

Setiap bahasa memiliki waktu dan generasinya sendiri, cara orang menggunakan bahasa pasti terus berubah seiring waktu.

Beberapa bahasa mungkin saja tidak hilang, mereka hanya berubah ke bentuk lain. Seperti air menjadi es dan mungkin itulah yang terjadi di Jawa Krama. Variasi dan penggunaan bahasa yang ‘lebih baik’ seperti apa, itu tergantung siapa yang melihat dari sisi mana ia melihatnya.

Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa bahasa Inggris atau bahkan bahasa Indonesia dapat membunuh bahasa Jawa dan bahasa daerah lainnya di Indonesia.

Namun, faktanya, suatu bahasa tidak bisa membunuh bahasa yang lain, melainkan para penuturnya sendiri yang enggan memakainya. Ketika penutur sebuah bahasa berkurang, bahasa tersebut akan memudar dan seringkali tanpa sempat didokumentasikan.

Ada banyak bahasa minoritas di Indonesia yang perlu dijaga sebelum status mereka menjadi “punah”. Revitalisasi bahasa membutuhkan usaha dan uang yang sangat besar.

Celya Intan Kharisma Putri

Lecturer, Universitas Airlangga

Artikel ini dipublikasikan atas kerja sama Kompas.com dan The Conversation Indonesia dari judul asli "Respons milenial Jawa di tengah kekhawatiran kepunahan bahasa Jawa Krama". Isi artikel di luar tanggung jawab Kompas.com.




Close Ads X