Kompas.com - 07/11/2018, 18:14 WIB

KOMPAS.com – Sindrom patah hati, atau yang bernama ilmiah sindrom takotsubo, adalah kondisi di mana ventrikel jantung kiri membesar dan melemah sehingga jantung tidak dapat memompa darah dengan normal.

Kondisi ini sering dipicu oleh tekanan emosional, seperti kematian seseorang dicintai. Meski demikian, ada juga yang dipicu oleh kondisi fisik, seperti serangan asma. Meski dapat pulih dengan sendirinya, tetapi orang dengan sindrom patah hati membutuhkan perhatian medis secepat mungkin.

Terlebih lagi, sebuah studi yang dilakukan Rumah Sakit Universitas Zurich di Swiss menyatakan bahwa angka risiko kematian bagi pasien sindrom patah hati dengan komplikasi syok kardiogenik terhitung tinggi, bahkan setelah bertahun-tahun dinyatakan sembuh.

Setidaknya, hampir 24 persen pasien di rumah sakit dengan komplikasi syok kardiogenik meninggal dunia, dibandingkan dengan hanya 2 persen pasien sindrom patah hati tanpa syok kardiogenik.

Baca juga: Anjingnya Mati, Seorang Wanita Alami Sindrom Patah Hati dan Masuk UGD

Bahkan, lima tahun pasca dinyatakan sembuh, tingkat kematian pasien dengan sindrom patah hati dengan syok kardiogenetik sekitar 40 persen, dibandingkan dengan 10 persen untuk pasien yang tidak mengalami syok kardiogenik.

"Di luar tingginya kematian jangka pendek akibat sindrom ini, untuk pertama kalinya analisis ini menemukan orang-orang yang mengalami sindrom patah hati dengan komplikasi syok kardiogenik berisiko tinggi untuk meninggal beberapa tahun kemudian," ujar Christian Templin yang temuannya akan diterbitkan dalam jurnal Circulation.

"Ini menunjukkan pentingnya pantauan jangka panjang terutama pada pasien sindrom ini," ujarnya lagi.

Pada dasarnya, gejala sindrom patah hati menyerupai dengan serangan jantung seperti nyeri dada dan sesak napas. Bedanya, pada sindrom patah hati tidak ada penyumbatan pembuluh darah jantung, dan biasanya pasien dinyatakan sembuh total dalam beberapa hari hingga beberapa minggu setelah perawatan.

Sialnya, menurut penelitian terbaru, sekitar 1 dari 10 pasien dengan sindrom patah hati mengalami komplikasi syok kardiogenik. komplikasi ini mengancam nyawa pasiennya karena jantung mereka secara tiba-tiba tidak dapat memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Baca juga: Mati karena Patah Hati Itu Nyata, Sains Membuktikannya

Pasien dengan syok kardiogenik juga cenderung memiliki tipe detak jantung tidak teratur yang disebut fibrilasi atrial, memiliki tingkat kemungkinan diabetes yang lebih tinggi, dan menderita faktor risiko lain untuk penyakit jantung.

"Untuk itu, pemantauan ketat bisa mengungkapkan tanda-tanda awal syok kardiogenik dan memungkinkan penanganan yang cepat," kata Templin seperti yang diberitakan Live Science pada Senin (05/11/2018).

Studi ini juga menemukan bahwa pasien dengan syok kardiogenik memiliki harapan hidup yang lebih tinggi jika dirawat dengan perangkat yang memberikan dukungan mekanis ke jantung, seperti alat yang membantu meningkatkan dorongan pada aliran darah.

"Meskipun perangkat ini harus digunakan dengan hati-hati, itu bisa dianggap sebagai jembatan untuk pemulihan pada pasien tanpa kontraindikasi," kata Templin.

Kedepannya, Templin dan tim penelitinya akan melakukan studi masa depan untuk menemukan perawatan terbaik untuk pasien sindrom patah hati dengan komplikasi syok kardiogenik, baik dalam jangka pendek mau pun panjang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.