Kala Lempeng Es dari Antartika Bernyanyi, Dengarkan Suaranya di Sini

Kompas.com - 18/10/2018, 19:05 WIB
Tim Mapala UI berhasil mencapai puncak Vinson Massif yang merupakan puncak tertinggi benua Antartika pada 6 Januari 2018 sekitar pukul 16.30 waktu Chile. DOC. Ryan Waters/ Mountain ProfessionalTim Mapala UI berhasil mencapai puncak Vinson Massif yang merupakan puncak tertinggi benua Antartika pada 6 Januari 2018 sekitar pukul 16.30 waktu Chile.

KOMPAS.com – Anda mungkin sudah sering mendengar para pemusik bernyanyi, atau bahkan pernah mendengar nyanyian paus bowhead.

Namun, siapa bilang hanya makhluk hidup yang bisa bernyanyi? Para peneliti baru saja merekam “nyanyian” lempeng es Ross di Antartika.

Nyanyian tersebut sebetulnya adalah dengung seismik pelan yang diakibatkan oleh goresan angin pada permukaan lempeng. Dengung ini terlalu pelan untuk didengarkan oleh telinga manusia secara alami sehingga para peneliti pun mempercepatnya hingga 1.200 kali agar dapat Anda dengarkan.

Hasilnya adalah nyanyian lempeng es Ross yang mengerikan dan tampaknya cocok digunakan dalam film horor.

Baca juga: Populasi Penguin di Antartika Menurun Drastis Hingga 88 Persen

Tujuan para peneliti, seperti diungkapkan dalam Geophysical Research Letters, sebenarnya bukan untuk merekam nyanyian lempeng es. Mereka ingin mempelajari keadaaan fisik dari lempeng es Ross yang merupakan lempeng es terapung terbesar di dunia. Sebagai informasi, lempeng es ini kira-kira sebesar negara Spanyol.

Dikarenakan pemanasan global, lempeng es seperti ini terus menerus terlepas dan pecah.

Untuk mempelajarinya, geofisikawan dan ahli matematika Julien Chaput dari Colorado State University dan kolega mengubur 34 sensor seismik di bawah lapisan salju tebal atau lapisan firn dari lempeng es Ross. Sensor ini merekam struktur lempeng es dari akhir 2014 hingga 2017.

Ketika mempelajari data yang dihasilkan oleh sensor, mereka menemukan bahwa lapisan salju ini terus menerus bergerak karena tiupan angin.

Baca juga: Berkat Rumput Laut Ini, Antartika Tak Lagi jadi Benua Terisolasi

Gerakan ini menimbulkan bunyi pada frekuensi lima siklus per detik. Lalu, variasi kekuatan angin dan perubahan temperatur udara juga mengubah-ubah nada nyanyian.

“Ini seperti Anda meniup seruling terus-terusan di lempeng es,” ujar Chaput.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X