Kompas.com - 17/10/2018, 20:36 WIB
Ilustrasi kepunahan massal Science Photo LibraryIlustrasi kepunahan massal

KOMPAS.com - Sepanjang eksistensi kita, manusia telah memburu mamalia lain untuk berbagai tujuan, mulai dari daging, bulu, hingga sekadar untuk perdagangan.

Perilaku kita ini telah menyebabkan kepunahan beberapa spesies. Bahkan, perkiraan para peneliti menyebutkan bahwa setelah Zaman Es akhir saja, setidaknya lebih dari 300 spesies telah lenyap, termasuk mammoth, badak berbulu dan harimau Tasmania.

Kini, kisah manusia sebagai salah satu penyumbang kepunahan mamalia masih berlanjut.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari Aarhus University di Denmark  mengungkapkan jika manusia akan menyebabkan begitu banyak kepunahan spesies mamalia dalam 50 tahun ke depan. Buruknya lagi, kepunahan itu tidak bisa dipulihkan dalam waktu cepat.

Jika hal ini terjadi, maka Bumi mungkin akan memasuki kepunahan massal keenamnya, sebuah era di mana lingkungan planet berubah begitu drastis sehingga sebagian besar hewan dan tumbuhan mati.

Baca juga: Peneliti Temukan Faktor yang Pengaruhi Usia Hidup Mamalia

Sebelumnya, Bumi juga sudah mengalami lima kali kepunahan massal selama 450 juta terakhir. Namun, bencana alam merupakan penyebabnya. Sekarang aktivitas manusialah yang berperan di dalamnya.

Penelitian yang kemudian dipublikasikan dalam jurnal PNAS ini menghitung seberapa cepat kepunahan terjadi dan berapa lama waktu evolusi yang dibutuhkan untuk mengembalikan Bumi kembali ke tingkat keanekaragaman hayati yang saat ini dimiliki.

Mereka menggunakan data berisi spesies mamalia yang masih ada, serta mamalia yang sudah punah ketika manusia menyebar ke seluruh planet.

Kemudian, peneliti menggabungkan data dengan informasi tentang kepunahan yang akan datang dalam 50 tahun ke depan, menggunakan simulasi evolusi canggih untuk memprediksi berapa lama waktu yang diperlukan untuk pemulihan.

Perkiraan mereka berdasarkan pada asumsi optimis bahwa orang pada akhirnya akan berhenti merusak habitat dan menyebabkan spesies mati sehingga tingkat kepunahan akan turun.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Oh Begitu
Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Fenomena
Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Fenomena
Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Fenomena
Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Oh Begitu
63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

Fenomena
Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Oh Begitu
Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Oh Begitu
Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Oh Begitu
Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Oh Begitu
Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Kita
Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Oh Begitu
Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Oh Begitu
Kisah Sitisoemandari Soeroto, Korbankan 4 Tahun Tuliskan Biografi Kartini

Kisah Sitisoemandari Soeroto, Korbankan 4 Tahun Tuliskan Biografi Kartini

Kita
Hobi Mumikan Kucing, Apa Alasan Orang Mesir Kuno Lakukan Itu?

Hobi Mumikan Kucing, Apa Alasan Orang Mesir Kuno Lakukan Itu?

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X