Demi Kesehatan Remaja, Jangan Sebarkan Foto-foto Korban Bencana Alam

Kompas.com - 13/10/2018, 07:06 WIB
ilustrasi remaja (sxc.hu/Martin Walls)ilustrasi remaja

KOMPAS.com – Berita tentang adanya bencana alam biasa tersebar di sosial media. Tidak hanya inti beritanya, sering kali gambar-gambar dari kehancuran fisik akibat bencana alam juga tersebar. Hal ini perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi psikologis remaja.

Remaja menjadi sorotan dalam hal ini karena mereka adalah individu yang sedang berada dalam masa transisi dari anak-anak menjadi dewasa. Dalam fase ini, tentu saja emosi dan pikirannya belum sepenuhnya matang.

“Transisi itu menjadi hal yang sangat penting karena terjadi perubahan besar secara psikologis pada kelompok usia remaja,” ujar dr Petrin Redayani Lukman dari Divisi Psikoterapi, Departemen Psikiatri, RSCM, dalam paparannya pada kegiatan Mental Health Among the Youth, Jumat (12/10/2018).

Dia melanjutkan, masa remaja akhir adalah periode yang sangat penting karena sebagai periode pembentukan identitas, dan ini yang menentukan struktur kepribadian saat masuk fase dewasa.

Baca juga: Korban Gempa Donggala Butuh Psychological First Aid, Ini Artinya

Lebih lanjut, ada perubahan pemikiran yang sebelumnya gradual menjadi abstrak pada transisi remaja. Mereka juga memiliki kecenderungan mempertimbangkan banyak kemungkinan dan hasil logis dari perisitiwa yang mungkin terjadi.

Ini menunjukkan bahwa pada fase transisi, remaja lebih rentan terhadap informasi-informasi yang tersebar secara visual, termasuk di dalam dunia maya terkait bencana alam. Penyebaran visualisasi bencana alam yang dikonsumsi remaja dapat menimbulkan dampak psikologis remaja.

Dokter Tjhin Wiguna, seorang psikiater anak dan remaja dari Departemen Medik Ilmu Kesehatan Jiwa, RSCM, sudah pernah menemui pasien yang ketakutan karena menonton video bencana alam dan berita bohong mengenai megathrust di Jakarta.

Dia mengakui bahwa tidak semua remaja dapat mengalami hal ini. Namun, ketika visualisasi bencana alam berhasil diterima oleh remaja yang rentan secara psikologis, kondisi serupa akan terjadi. Pada jangka pendek, penyebaran gambar tersebut dapat menyebabkan depresi dan ketakutan berlebih bagi remaja.

Baca juga: Kemenkes Akan Beri Penyembuhan Trauma bagi Korban Bom Surabaya

“Kalau sudah ada gangguan depresi, dalam fungsi sehari-hari pasti terganggu, bisa mengurung diri, tidak semangat beraktivitas, kekhawatiran berlebih, sedih, dan mudah marah,” ujarnya.

Jika sudah terlanjur mengalami hal tersebut, orangtua wajib melakukan tindakan sedini mungkin agar tidak berkepanjangan di masa dewasa kelak.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X