Kompas.com - 10/10/2018, 08:55 WIB
Ilustrasi kanker paru-paru Ben-SchonewilleIlustrasi kanker paru-paru

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              KOMPAS.com - Untuk kesekian kalinya, kanker paru kembali merenggut nyawa manusia. Kali ini istri Indo Warkop, Nita Octobijanthy, menjadi orang yang meninggal akibat penyakit itu.

Dia bukan satu-satunya penderita kanker paru yang meninggal dunia. World Cancer Research Fund memprediksi, 1,59 juta orang meninggal akibat penyakit ity. Hanya 15 persen penderita kanker paru yang sintas.

Lewat momen meninggalnya istri Indro, mari membesuk lagi penyakit ini dan mengetahui cara yang bisa dilakukan untuk menghindarinya.

Bagaimana Kanker Paru Bermula?

Perkembangan kanker paru masih menyisakan banyak teka-teki tetapi pelan-pelan ilmuwan mulai mengungkapnya.

Penelitian Clare Weeden dari Univerisas Melbourne di Australia menguak, kanker paru berkaitan dengan senyawa yang kita hirup dan perkembangan sel punca basal.

"Saat kita menghirup sesuatu seperti asap rokok, sel-sel basal akan menerima sinyal untuk tumbuh dan memperbaiki kerusakan itu," kata Weeden.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Semakin banyak senyawa yang merusak, maka semakin aktif pula sel punca basal.

Sayangnya, keaktifan sel punca itu juga meningkatkan risiko mutasi. Sekali mutasi maka bayi kanker pun lahir dan akan terus tumbuh jika tubuh tak mampu mengendalikannya.

Kanker paru berpotensi menyebar ke organ-organ lainnya dan sangat sulit ditaklukkan jika terdeteksi sudah pada stadium akhir.

Apa Sebabnya?

Sebab utamanya sudah banyak orang yang tahu, rokok.

Spesialis paru dari RS Persahabatan, Dr Sita Laksmi Andarini, PhD, SpP(K) mengatakan bahwa perokok aktif berisiko 13,6 kali lipat. Sedangkan perokok pasif berisiko 4 kali lipat terkena kanker paru.

Dalam konteks penelitian Weeden, rokok meningkatkan kerusakan sel paru dan membuat sel punca basal lebih aktif sehingga meningkatkan mutasi.

Baca juga: Kanker Paru-paru di Asia Sulit Dijinakkan, Ahli Temukan Sebabnya

Namun kanker paru juga bisa menyerang mereka yang tidak perokok.

Dr. Aru W. Sudoyo, SpPD, K-HPM, FINASIM dari Divisi Hematologi dan Onkologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengungkapkan, ada sekelompok penderita kanker paru non-perokok yang memiliki karakteristik atau ciri khas, yakni mereka yang masuk dalam kategori 'woman, Asian, nonsmoker'.

"Rokok memang menjadi pemicu utama. Tetapi ada sekelompok pasien yang termasuk dalam kategori 'woman, Asian, nonsmoker'," ujar Aru.

Menurut Aru, jenis kanker pada golongan itu khas. Pengobatan sama dengan jenis kanker paru yang lain, tetapi cenderung ditemukan dalam stadium yang lebih lanjut karena tidak ada keluhan.

Elisna Syahruddin dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Respiratori, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia menjelaskan, masyarakat yang bermukim di kawasan dengan tingkat polusi indoor maupun outdoor tinggi juga berpotensi besar menderita kanker paru.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.