Kompas.com - 02/10/2018, 19:34 WIB
Dampak kerusakan akibat gempa Donggala dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah, pada Jumat (28/9/2018), di Pelabuhan Wani 2, Kecamatan Tanatopea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018). KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMODampak kerusakan akibat gempa Donggala dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah, pada Jumat (28/9/2018), di Pelabuhan Wani 2, Kecamatan Tanatopea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018).

KOMPAS.com - Peristiwa gempa Donggala dan tsunami Palu yang terjadi hari Jumat pekan lalu menimbulkan banyak korban. Tak hanya korban jiwa, banyak juga orang yang kehilangan sanak saudara, keluarga, dan rumahnya.

Ini tentunya menimbulkan sejumlah trauma pada korban yang selamat atau penyintas. Terkait hal ini, psikolog Ratih Ibrahim menyebut perlu adanya pendampingan psikologis bagi korban.

"Pendampingan psikologis perlu diberikan bersamaan dengan pendampingan-pendampingan yang lain, seperti pendampingan medis, finansial, sosial, politis, dan spiritual," kata Ratih kepada Kompas.com melalui pesan singkat, Selasa (02/10/2018).

"Tujuan dari pendampingan, sebagai bagian dari upaya pertolongan, adalah membantu agar korban atau survivor bisa segera dipulihkan," sambungnya.

Dalam masa krisis seperti di Palu dan Donggala saat ini, pendampingan yang dibutuhkan adalah Psychological First Aid.

"Psychological first aid merupakan penanganan dalam kondisi krisis yang meliputi physical health (kesehatan fisik), psychological health (kesehatan psikologis), dan behavioral health (kesehatan perilaku)," ujar Listyo Yuwanto, psikolog klinis yang saat ini terlibat dalam upaya pemulihan di Palu.

Untuk membuat perasaan aman dan nyaman, kata Listyo, para penyintas memerlukan pemenuhan kebutuhan dasar.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Dalam kondisi krisis seperti saat ini di Palu, bentuk physical health lebih ke arah pemenuhan kebutuhan dasar seperti kebutuhan pangan, air minum, tempat pengungsian layak, pakaian, MCK, sanitasi, kesehatan fisik, dan terpenuhinya perawatan luka," tegasnya.

Menurut Listyo, pemenuhan kebutuhan dasar atau logistik ini bisa secara psikologis akan membuat penyintas bencana palu merasa nyaman.

Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Adityana Kasandra Putranto, psikolog klinis. Menurut dia, pemenuhan kebutuhan hidup juga bertujuan agar para penyintas bisa tetap menjalani kehidupan.

Baca juga: Minim Alat Pendeteksi Tsunami, Ini 5 Langkah Penyelamatan Diri

Hal lain yang diperlukan penyintas untuk segera merasa aman dan nyaman adalah komunikasi keluarga.

"Dalam area psychological health, penyintas bencana bisa ditemukan dengan anggota keluarga yang terpisah atau diberi kesempatan untuk berkirim kabar dengan anggota keluarga di luar Palu," ujar Listyo.

Bentuk komunikasi dengan keluarga tersebut dengan tujuan agar mereka bisa merasa nyaman dan lega bisa telah berinteraksi. Apalagi, sebelumnya sejumlah wilayah terisolasi karena jalur komunikasi dan transportasi sempat terputus.

Selain kebutuhan-kebutuhan dasar di atas, para penyintas bencana di Palu juga memerlukan berbagai aktivitas lain. Salah satunya aktivitas relaksasi untuk menghindari ketidaknyamanan dan kebosanan selama di pengungsian.

"Di sela-sela kondisi tersebut bisa dibarengi dengan aktivitas rekreasional seperti bermain, relaksasi, aktivitas bersyukur yang membantu mencegah kebosanan ataupun ketidaknyamanan psikologis," kata Listyo.

"Perlu juga dilakukan penjelasan tentang peristiwa apa yang telah terjadi dan dampaknya," tambahnya.

Edukasi yang diberikan juga dilakukan dalam aspek behavioral health. Artinya, para penyintas perlu diberikan pengetahuan terkait gaya hidup sehat meski dalam keterbatasan.

"(Penyintas perlu) dibekali dengan perilaku hidup sehat seperti makan yang bersih, teratur dengan segala keterbatasan, mengganti pembalut, menjaga MCK dan sanitasi, tidak begadang," tutur Listyo.

Baca juga: Kok Bisa-bisanya Tsunami Palu Tak Terdeteksi? BIG Beberkan Masalahnya

Tak hanya itu, membuat penyintas tetap waspada terhadap gempa susulan juga diperlukan. Ini mengingat gempa susulan sempat terjadi kembali.

"Serta (edukasi agar penyintas) tidak melakukan perilaku-perilaku negatif yang dapat menambah risiko penurunan kesehatan atau cedera," tegas Listyo.

Pemulihan trauma sendiri tentu tidak bisa secara instan dihilangkan. Bahkan, Kasandra dan Ratih menyebut pemulihan ini bisa memakan waktu cukup panjang.

"Pemulihan trauma dilakukan setelah masa reaksi normal dalam situasi abnormal mereka lewat, kira-kira dua minggu setelah bencana," kata Kasandra.

Kasandra dan Ratih juga mengingatkan pentingnya koordinasi dari berbagai pihak terkait pemulihan ini.

"Kesigapan pemerintah turun tangan, bantuan masyarakat, sangat membantu untuk bisa resilien (pulih)," kata Ratih.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.