Terobosan Terapi Kanker, 2 Imunolog Sabet Penghargaan Nobel Kedokteran

Kompas.com - 02/10/2018, 07:58 WIB

KOMPAS.com - Dua ahli imunologi asal Amerika dan Jepang, James P. Allison dan Tasuku Honjo berhasil memenangkan Penghargaan Nobel 2018 untuk kategori fisiologi atau kedokteran. Mereka berhasil menemukan terobosan terbaru untuk melawan sel kanker.

"Pasangan ilmuwan ini berhasil menghambat penghentian sistem kekebalan tubuh untuk membunuh sel-sel kanker lebih cepat," kata Majelis Nobel di Stockholm, dilansir kantor berita AFP, Senin (1/10/2018).

Baca juga: Ig Nobel 2018: Naiklah Roller Coaster untuk Sembuhkan Batu Ginjal

Terapi kanker yang ditemukan keduanya, menarget protein yang dihasilkan oleh beberapa sel-sel sistem kekebalan tubuh dan juga beberapa sel kanker.

Protein-protein tersebut dapat menghentikan pertahanan alami tubuh dalam membunuh sel kanker. Terapi ini juga dirancang untuk menghilangkan "jeda" protein agar membuat sistem kekebalan tubuh lebih cepat bekerja melawan kanker.

Revolusi pengobatan kanker yang dilakukan Allison dan Honjo telah mengubah cara kita melihat bagaimana kanker dapat ditangani.


Atas temuan mereka yang brilian, keduanya mendapat hadial sembilan juta kronor atau sekitar Rp 15 miliar.

Tentang kedua ahli

Pada tahun 1995, Allison bersama seorang rekannya mengidentifikasi molekul CTLA-4 sebagaai reseptor penghambatan pada sel-T, sejenis sel darah putih yang memainkan peran sentral dalam kekebalan tubuh alami melawan penyakit.

Para juri penghargaan Nobel menilai Allison yang sudah berusia 70 tahun itu telah lama menyadari potensi melepaskan "rem" untuk melepaskan sel kekebalan tubuh agar bisa menyerang kanker.

"Saya hanya ilmuwan biasa. Saya melakukan penelitian ini tidak untuk mencoba menyembuhkan kanker. Saya hanya penasaran bagaimana sel T bekerja," kata Allison yang merupakan ketua Imunologi dan direktur eksekutid di Pusat Kanker MD Anderson Univerity, Texas, dilansir CNN, Senin (1/10/2018).

Menurut National Cancer Institute, sel T merupakan sejenis sel darah putih dan merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh untuk melindungi tubuh dari infeksi dan dapat membantu melawan kanker.

Sementara Honjo, profesor imunologi di Universitas Kyoto menemukan protein berbeda pada sel kekebalan tubuh, ligan PD-1, yang juga berfungsi sebagai "rem" tetapi dengan cara berbeda. Terapi berdasarkan metodenya juga terbukti efektif melawan kanker.

Baca juga: Dokter Jelaskan Duduk Perkara Hubungan Pil KB dan Kanker Payudara

"Kanker membunuh jutaan orang setiap tahun dan menjadi tantangan terbesar dalam kesehatan manusia. Dengan merangsang kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk menyerang sel-sel kanker, pemenang NobelPrize tahun ini telah menetapkan prinsip terbaru untuk terapi kanker," ujar komite Nobel di Twitter.

Penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran telah diberikan 108 kali pada 214 ilmuwan sejak 1901 sampai 2017.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber CNN,AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[POPULER SAINS] Perseverance Mars NASA Bidik Puing Pendaratannya | Puncak Hujan Meteor Perseid | Video Viral Anak SD Rambutnya Dipotong Guru

[POPULER SAINS] Perseverance Mars NASA Bidik Puing Pendaratannya | Puncak Hujan Meteor Perseid | Video Viral Anak SD Rambutnya Dipotong Guru

Oh Begitu
Penyakit Cacar Monyet Bisa Sembuh Sendiri, Ini Pengobatan hingga Pencegahan Penularannya

Penyakit Cacar Monyet Bisa Sembuh Sendiri, Ini Pengobatan hingga Pencegahan Penularannya

Kita
Darah Berwarna Merah tapi Kenapa Pembuluh Darah Berwarna Biru? Ini Penjelasan Sains

Darah Berwarna Merah tapi Kenapa Pembuluh Darah Berwarna Biru? Ini Penjelasan Sains

Oh Begitu
Benarkah Cacar Monyet Termasuk Penyakit Infeksi Menular Seksual? Dokter Jelaskan

Benarkah Cacar Monyet Termasuk Penyakit Infeksi Menular Seksual? Dokter Jelaskan

Kita
Jumlah Perokok Anak Masih Banyak, Kemenkes Desak Revisi PP Tembakau

Jumlah Perokok Anak Masih Banyak, Kemenkes Desak Revisi PP Tembakau

Kita
Kenapa Kucing Selalu Tidur dan Tampak Malas? Ini Penyebabnya

Kenapa Kucing Selalu Tidur dan Tampak Malas? Ini Penyebabnya

Oh Begitu
Kemenkes Pastikan Subvarian Omicron BA.4.6 Belum Ada di Indonesia

Kemenkes Pastikan Subvarian Omicron BA.4.6 Belum Ada di Indonesia

Oh Begitu
Waspada Gelombang Sangat Tinggi 6 Meter di Selatan Jawa pada 10-11 Agustus

Waspada Gelombang Sangat Tinggi 6 Meter di Selatan Jawa pada 10-11 Agustus

Fenomena
Puncak Hujan Meteor Perseid Terjadi 13 Agustus, Catat Waktu untuk Menyaksikannya

Puncak Hujan Meteor Perseid Terjadi 13 Agustus, Catat Waktu untuk Menyaksikannya

Fenomena
Gunung Ibu Alami Erupsi, Ini Rekomendasinya

Gunung Ibu Alami Erupsi, Ini Rekomendasinya

Oh Begitu
China Deteksi Virus Zoonosis Langya pada 35 Orang, Apa Gejalanya?

China Deteksi Virus Zoonosis Langya pada 35 Orang, Apa Gejalanya?

Oh Begitu
Laba-laba Ternyata Juga Tidur, Studi Ini Buktikan

Laba-laba Ternyata Juga Tidur, Studi Ini Buktikan

Oh Begitu
Kenapa Kulit Badak Tebal?

Kenapa Kulit Badak Tebal?

Oh Begitu
Siklon Tropis Mulan Berpotensi Picu Gelombang Tinggi Hari Ini

Siklon Tropis Mulan Berpotensi Picu Gelombang Tinggi Hari Ini

Oh Begitu
Studi Ungkap Tarsius, Primata Terkecil di Dunia Mampu Bernyanyi dengan Nada Tinggi

Studi Ungkap Tarsius, Primata Terkecil di Dunia Mampu Bernyanyi dengan Nada Tinggi

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.