Harimau Sumatera Terus Menerus Jadi Korban, Bagaimana Melindunginya?

Kompas.com - 27/09/2018, 19:08 WIB
Harimau sumatera betina yang sedang bunting ditemukan mati akibat jeratan di Kabupaten Kuansing, Riau, Rabu (26/9/2018). Si raja hutan ini ditemukan mati tergantung di pinggir jurang dengan tali sling melilit di pinggangnya. Dok. BBKSDA Riau Kompas.com/Idon TanjungHarimau sumatera betina yang sedang bunting ditemukan mati akibat jeratan di Kabupaten Kuansing, Riau, Rabu (26/9/2018). Si raja hutan ini ditemukan mati tergantung di pinggir jurang dengan tali sling melilit di pinggangnya. Dok. BBKSDA Riau

Oleh Fachrudin Majeri Mangunjaya*

KOMPAS.com - Harimau Sumatra makin terancam populasinya karena deforestasi dan perburuan ilegal. Manusia adalah faktor ancaman terbesar terhadap harimau, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Sekarang ini, menurut catatan resmi  The International Union for Conservation of Nature (IUCN), populasi harimau Sumatra ada pada kisaran antara 400-500 individu. Namun keberadaannya menjadi sangat kritis karena ancaman kehilangan habitat, berkonflik dengan manusia, dan juga perburuan.

Dahulu, harimau Sumatra (Panthera tigris sondaica) hidup di hutan di Pulau Sumatra, Jawa, dan Bali. Tapi kini mereka hanya tersisa di Sumatra. Mereka kerap berkonflik dengan penduduk lokal karena makin mengecil habitatnya. Pada saat bersamaan penduduk kerap memburu mereka untuk diperjual-belikan bagian tubuh “kucing gede” ini di pasar gelap.

Dalam upaya mempelajari dan meminimalkan konflik, kami meneliti secara interdisiplin dengan cara memetakan desa-desa di Jambi dengan risiko tinggi pertemuan harimau-manusia.

Kami juga meneliti di mana penduduknya memiliki toleransi rendah terhadap satwa liar. Desa-desa ini perlu dijadikan prioritas untuk intervensi konflik harimau-manusia dengan menggunakan pendekatan budaya dan agama.

Pendekatan yang tak membuat jera

Selama ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengambil pendekatan penegakan hukum pidana saat terjadi harimau mati.

Namun, pendekatan ini tampaknya tidak menimbulkan efek jera dalam mengurangi serangan penduduk terhadap harimau. Tatkala tekanan datang, seperti ancaman bahaya harimau dianggap mengganggu, maka masyarakat tidak segan untuk membunuhnya.

Dalam riset sebelumnya oleh Chris R Shepherd dari Monitor Conservation Research Society (Monitor) terungkap pula bahwa perburuan didorong oleh adanya praktik komersial atau permintaan pasar.

Dengan kata lain, tidak jarang ditemukan niat membunuh harimau didorong oleh adanya keperluan uang.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X