Cara Kita Pakai Internet Mungkin Ancam Satwa Liar, Kok Bisa?

Kompas.com - 17/09/2018, 14:01 WIB
Kukang Jawa sitaan Polda Jawa Barat dari sindikat perdagangan satwa dilindungi. (KOMPAS.com/PUTRA PRIMA PERDANA). Kontributor Bandung, Putra Prima PerdanaKukang Jawa sitaan Polda Jawa Barat dari sindikat perdagangan satwa dilindungi. (KOMPAS.com/PUTRA PRIMA PERDANA).

Ambil contoh Sonya si kukang lamban. Primata nokturnal asli Asia Tenggara ini mendulang klik dengan sebuah video viral yang menunjukkan Sonya mengangkat tangan di udara dengan sukacita.

Sedihnya, ahli perilaku hewan mengungkapkan bahwa apa yang kita pikir bahwa Sonya sedang menikmati sebuah gelitikan, ternyata adalah bukti seekor hewan yang menderita.

Itu adalah perilaku defensif dari Sonya. Hal ini terjadi karena Sonya merupakan hewan peliharaan yang kelebihan berat badan dan disimpan di sebuah flat di Rusia.

Perilaku tersebut sebagai reaksi defensif terhadap sentuhan pemiliknya.

Pada 2013, Profesor Anna Nekaris dan rekan-rekannya menerbitkan sebuah penelitian yang mengamati bagaimana pengguna internet bereaksi terhadap video tersebut.

Pada bulan-bulan awal video itu muncul, mereka menemukan bahwa seperempat dari yang memberikan komentar menyatakan minat mereka untuk memelihara salah satu hewan ini sebagai hewan peliharaan. Padahal, populasi liar kukang telah dinyatakan rentan oleh IUCN.

Prof Nekaris melanjutkan penelitiannya ke tren yang merisaukan ini dan mengatakan bahwa situasi belum membaik untuk spesies tersebut. Meski perdagangan telah menurun di beberapa daerah, itu hanya karena hewan ini telah punah secara lokal.

"Kukang lamban menderita lebih dari sebelumnya karena perdagangan satwa liar ilegal," jelas Prof Nekaris.

Selain diburu untuk perdagangan hewan peliharaan, mereka juga diburu untuk apa yang disebut sebagai obat tradisional.

Baca juga: Terbukti, Internet Ambil Bagian dalam Masalah Kurang Tidur

TRAFFIC (jaringan pemantauan perdagangan satwa liar) melaporkan bahwa iklan untuk satwa liar ilegal terus menurun di Cina - turun hingga 50 persen dari tahun 2012 hingga tahun 2016.

Statistik yang tampaknya positif ini datang dengan peringatan: perdagangan satwa liar ilegal telah berpindah dari situs e-commerce ke komunitas online privat dan jejaring sosial.

Perdagangan tersebut telah secara efektif didorong ke bawah tanah, ke platform yang sulit untuk dipolisikan oleh pihak berwenang.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X