Ketua IDAI: Vaksin MR Wajib Diberikan demi Keselamatan Anak Bangsa

Kompas.com - 21/08/2018, 17:00 WIB
Petugas medis menyuntikkan vaksin MR (measles and rubella) kapada siswa TK di Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (9/8/2017). Imunisasi MR untuk 120 ribu anak kelompok umur minimal sembilan bulan, TK-SD-SMP dengan rentang usia kurang dari 15 tahun untuk mencegah infeksi campak dan rubella melalui saluran pernafasan di Tulungagung ditargetkan tuntas bertahap hingga akhir September 2017. ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/kye/17 ANTARA FOTO/Destyan SujarwokoPetugas medis menyuntikkan vaksin MR (measles and rubella) kapada siswa TK di Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (9/8/2017). Imunisasi MR untuk 120 ribu anak kelompok umur minimal sembilan bulan, TK-SD-SMP dengan rentang usia kurang dari 15 tahun untuk mencegah infeksi campak dan rubella melalui saluran pernafasan di Tulungagung ditargetkan tuntas bertahap hingga akhir September 2017. ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/kye/17

KOMPAS.com – Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), baru saja menerbitkan fatwa nomor 33 tahun 2018 tentang penggunaan vaksin measles dan rubella (MR). Imunisasi vaksin MR sempat membuat polemik di beberapa pihak karena diketahui mengandung unsur babi yang kemudian didakwa sebagai vaksin haram.

Menanggapi ijin penggunaan vaksin MR, dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K), ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia memberikan komentarnya.

"Ini program dunia dan Indonesia. Jadi setiap anak itu mempunyai hak untuk diimunisasi. Ketika ada obat atau imunisasi untuk melindungi penyakit, (itu) hal yang harus dilakukan," tegas Aman saat dihubungi Kompas.com, Selasa (21/08/2018), melalui sambungan telepon.

Baca juga: Menganggap Penuhi Unsur Kedaruratan, MUI Bolehkan Penggunaan Vaksin MR

Ia menambahkan, vaksin MR berperan penting dalam menyelamatkan masa depan anak bangsa. Pasalnya, beberapa kasus kematian yang disebabkan campak masih ada di Indonesia.

Perang melawan campak dan rubella juga tidak hanya dilakukan Indonesia. Hingga saat ini, pemerintah Amerika pun terus mengkampanyekan imunisasi campak.

"Untuk rubella, ketika anak-anak kena rubella dia akan menginfeksi ibu hamil. Ibu hamil ini (akan menginfeksi) anaknya (yang masih di kandungan, sehingga) berisiko kena rubella. Ketika anaknya lahir (terdiagnosis) rubella, (bayi akan) buta, tuli, jantungnya bocor. Siapa yang mau menanggung ini semua?" tegas Aman.

Tidak hanya itu, Aman juga mengkritisi pihak-pihak yang tidak mempercayai dokter perihal vaksin ini.

Menurutnya, sudah berpuluh-puluh tahun dokter menjadi tempat pertama yang dituju bagi mereka yang sakit. Sebab itu, ia menyarankan masyarakat mempercayai dokter terutama pada kasus vaksin MR ini.

Campak dan Rubella perlu perhatian khusus

Campak dan rubella merupakan penyakit yang perlu mendapat perhatian khusus.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X