Kompas.com - 02/08/2018, 20:33 WIB

Hal ini dianggap sebagai salah satu jalan bagi penggunaan obat biusa dalam kebidanan dan bedah caesar.

Sterilisasi, cuci tangan, dan antibiotik juga mengubah hasil bedah caesar.

Baca juga: Adakah Pantangan Makanan Setelah Operasi Caesar?

1867, Joseph Lister memperkenalkan semprotan karbol untuk disinfektan area operasi.

1876, Eduardo Porro, Profesor Obstetri di Pavia menganjurkan pengangkatan rahim setelah operasi caesar sebagai cara mengendalikan pendarahan.

Namun, pada tahun 1882, ahli kebidanan Jerman, Adolf Kehrer dan Max Sänger masing-masing mengembangkan metode untuk mencegah perdarahan dengan menggunakan jahitan untuk menutup luka.

Pada 1940, bedah caesar mulai umum dilakukan. Hal ini mengikuti kemajuan dalam penemuan antibiotik.

Selanjutnya, perbaikan teknik bedah, transfusi darah, dan prosedur antiseptik juga turut membuat prosedur ini lebih baik lagi. Semua itu mengurangi risiko kematian yang terjadi pada bedah caesar.

Batas Aman

Tahun 1985, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan tingkat bedah sesar optimal adalah 10 hingga 15 persen dalam populasi tertentu.

Rekomendasi ini diberikan bukan tanpa alasan. Menurut WHO, jika operasi caesar dilakukan di atas tingkat tersebut, beban berlebihan akan terjadi untuk perawatan ibu dan anak baik sebelum dan sesudah persalinan.

Artinya, prosedur ini meningkatkan jumlah perempuan dan bayi untuk terpapar risiko yang terkait operasi.

Meski sudah diberi batasan, pada kenyataannya, di akhir abad ke-20 persentase operasi caesar di Amerika Serikat meningkat tajam.

Baca juga: Persalinan Normal dan Caesar, Lebih Baik Mana?

Sebagian besar terjadi akibat peningkatan jumlah malpraktik dokter kebidanan untuk menemukan indikasi masalah dalam persalinan.

Pada awal abad 21, tingkat bedah caesar melebihi rekomendasi WHO. Angka yang melonjak tinggi terlihat pada beberapa negara seperti Inggris, Australia, Jerman, Perancis, Italia, India, China, dan Brasil.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.