Kompas.com - 02/08/2018, 20:33 WIB

KOMPAS.com - Kemarin, Rabu (01/08/2018), Putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu melahirkan anak pertamanya. Proses kelahiran ini dilakukan melalui operasi caesar di Rumah Sakit YPK Mandiri, Menteng, Jakarta.

Selain Kahiyang, ada banyak perempuan di seluruh dunia yang melalui operasi caesar untuk melahirkan.

Umumnya, prosedur ini dipilih karena melahirkan normal melalui vagina tidak memungkinkan atas dasar risiko komplikasi medis.

Bedah caesar telah menyelamatkan banyak nyawa ibu dan anak yang tidak bisa melakukan prosedur kelahiran normal. Inilah mengapa jenis bedah tersebut telah banyak mengubah wajah dunia.

Namun, tahukah Anda kapan bedah caesar pertama terjadi?

Sebenarnya, kapan bedah caesar pertama terjadi masih simpang siur.

Terinspirasi Julius Caesar?

Beberapa orang percaya nama prosedur ini memang diambil dari Julius Caesar, Penguasa Romawi. Dalam kepercayaan mereka, Julius Caesar merupakan anak pertama yang lahir dengan proses tersebut.

Hal ini ditegaskan dalam catatan paling awal tentang kelahiran sang penguasa. Dalam dokumen abad ke-10 The Suda, sebuah ensiklopedia sejarah Bizantium-Yunani, menyebut nama prosedur ini memang terinspirasi dari Julius Caesar.

"Para kaisar Romawi menerima nama ini dari Julius Caesar, yang tidak lahir. Karena ketika ibunya meninggal pada bulan kesembilan, mereka membukanya (perut sang ibu), membawanya keluar, dan menamainya demikian; karena sayatan dalam bahasa Romawi adalah 'Caesar'," tulis dokumen tersebut.

Baca juga: Bayi Kelahiran Caesar Berisiko Mengalami Obesitas

Sayangnya, beberapa ahli menyebut hal itu mitos belaka. Nama prosedur ini bukan dari bahasa Romawi, melainkan Latin 'caedare' berarti memotong.

Ritual

Bukti yang menguatkan hal tersebut hanya mitos adalah kisah Aurelia, ibu Julius. Dia diyakini masih hidup ketika penguasa besar itu beranjak dewasa.

Ini menegaskan kisah Julius Caesar di atas hanya sekedar mitos. Pasalnya, pada masa sebelum Caesar berkuasa (sekitar tahun 700 sebelum masehi), prosedur ini telah dikenal.

Hanya saja, pada masa itu, membedah rahim seeorang ibu hamil baru boleh dilakukan jika perempuan tersebut meninggal selama persalinan.

Artinya, mitos tersebut terbantahkan karena Aurelia maish hidup hingga anaknya dewasa.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.