Kompas.com - 16/07/2018, 13:31 WIB
. Getty Images/iStockphoto.

KOMPAS.com - Para ilmuwan, kini, "optimististis" secara berhati-hati bahwa mereka selangkah lebih dekat pada vaksin HIV yang efektif.

Keoptimisan para ilmuwan ini berkembah setelah uji coba vaksin baru terhadap manusia dan monyet menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal The Lancet, pengobatan uji coba itu ditemukan untuk menghasilkan tanggapan kekebalan anti-HIV pada orang dewasa yang sehat.

Selain itu, vaksin ini juga melindungi monyet terhadap infeksi dari virus yang mirip dengan HIV.

Peneliti utama, Dan Barouch, dari Harvard Medical School mengatakan, penelitian itu merupakan "tonggak penting" dalam penelitian HIV. Meski terbilang berhasil, tapi hasil ini harus ditafsirkan dengan hati-hati.

"Kami senang dengan hasil saat ini ... tetapi kami tak bisa berasumsi bahwa vaksin ini akan bekerja pada manusia," kata Profesor Barouch kepada The Health Report.

Untuk menguji teori itu, kini, para peneliti akan memberi vaksin 2.600 perempuan di Afrika bagian selatan yang berisiko tertular HIV.

"Ini hanyalah konsep vaksin HIV kelima yang akan diujicobakan kemanjurannya pada manusia dalam sejarah 35 tahun epidemi global," kata Profesor Barouch.

Hampir 37 juta orang di seluruh dunia hidup dengan HIV, dengan sekitar 1,8 juta kasus baru setiap tahunnya.

Tantangannya...

Salah satu tantangan utama mengembangkan vaksin HIV yang efektif adalah kemampuan virus untuk bermutasi dengan cepat dan menghindari serangan dari sistem kekebalan tubuh kita.

Baca juga: Video Ini Tunjukkan Bagaimana HIV Menginfeksi Sel Saat Hubungan Seks

Apalagi, ada banyak jenis HIV. Ditambah, uji coba vaksin sebelumnya biasanya terbatas pada jenis virus tertentu di wilayah tertentu di dunia.

Namun, untuk penelitian ini, para peneliti menggunakan apa yang disebut vaksin 'mosaik' yang menggabungkan potongan berbagai jenis virus HIV untuk memperoleh tanggapan kekebalan terhadap berbagai jenis HIV.

Pada tahun 2015, Profesor Barouch dan rekan-rekannya menguji berbagai kombinasi dari vaksin mosaik pada orang dewasa yang sehat di Afrika timur, Afrika Selatan, Thailand dan Amerika Serikat.

Sebanyak 393 peserta diberi empat vaksinasi selama 48 minggu. Setiap kombinasi vaksin ditemukan aman dan "ditoleransi dengan baik" serta menghasilkan tanggapan kekebalan anti-HIV.

Pada saat yang sama, para peneliti memberi kombinasi vaksin 'mosaik' terhadap 72 monyet untuk menguji ketahanan terhadap virus serupa HIV yang menyerang monyet.

Mereka menemukan vaksin yang menghasilkan respons kekebalan terbesar pada manusia juga memberikan perlindungan terbaik pada monyet.

Halaman:
Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Fenomena
Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Oh Begitu
Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Oh Begitu
Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Oh Begitu
Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Kita
Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Fenomena
[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

Oh Begitu
Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Oh Begitu
Roket Falcon 9 SpaceX Berhasil Luncurkan 49 Satelit Internet Starlink ke Luar Angkasa

Roket Falcon 9 SpaceX Berhasil Luncurkan 49 Satelit Internet Starlink ke Luar Angkasa

Fenomena
Gunung Merapi Semburkan Awan Panas, Waspada Radius 5 KM dari Puncak

Gunung Merapi Semburkan Awan Panas, Waspada Radius 5 KM dari Puncak

Fenomena
Penyebab Kanker Limpa dan Faktor Risikonya

Penyebab Kanker Limpa dan Faktor Risikonya

Kita
Atom yang Mendapatkan atau Melepas Elektron untuk Pembentukan Ion

Atom yang Mendapatkan atau Melepas Elektron untuk Pembentukan Ion

Prof Cilik
Inti Sel: Pengertian, Fungsi, dan Bagian-bagiannya

Inti Sel: Pengertian, Fungsi, dan Bagian-bagiannya

Kita
Matahari akan Terbenam Lebih Lambat di Indonesia Akhir Januari 2022, Ada Apa?

Matahari akan Terbenam Lebih Lambat di Indonesia Akhir Januari 2022, Ada Apa?

Fenomena
Fenomena Ekuiluks Terjadi di Indonesia Sebulan ke Depan, Apa Dampaknya?

Fenomena Ekuiluks Terjadi di Indonesia Sebulan ke Depan, Apa Dampaknya?

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.