Belajar dari Terjebaknya Remaja Thailand, Kondisi Goa di Indonesia Sama

Kompas.com - 05/07/2018, 08:08 WIB
Tim penyelamat terlihat di depan gua Tham Luang di Taman Hutan Non Khun Nam Nang di Chiang Rai, Tabu (27/6/2018). Mereka berupaya menyelamatkan 12 remaja dan pelatih mereka yang hilang selama beberapa hari di dalam gua. (AFP/Lillian Suwanrumpha) Tim penyelamat terlihat di depan gua Tham Luang di Taman Hutan Non Khun Nam Nang di Chiang Rai, Tabu (27/6/2018). Mereka berupaya menyelamatkan 12 remaja dan pelatih mereka yang hilang selama beberapa hari di dalam gua. (AFP/Lillian Suwanrumpha)

KOMPAS.com - Kondisi goa-goa di Indonesia diperkirakan sama dengan di Thailand. Goa yang dimaksud adalah tempat terperangkapnya 12 remaja bersama pelatihnya selama sembilan hari sebelum akhirnya berhasil ditemukan.

Hal tersebut dijelaskan oleh Cahyo Alkantana, Presiden Asosiasi Wisata Goa Indonesia (Astaga) dan pemilik perusahaan wisata gua Jomblang Cave Resort, kepada wartawan BBC Indonesia, Liston P Siregar.

Kenyataannya adalah banjir di dalam goa disebabkan air hujan yang masuk terlalu banyak ke dalam sistem pergoaan. Hal ini juga sering kali terjadi pada goa di Indonesia.

Karena itu, goa tidak mampu lagi menampung atau mengalirkan air secara langsung dan kemudian tertahan di lubang-lubangnya.

"Kasus ini sama seperti dengan yang di Thailand. Pemain sepak bola itu kan lari ke atas dan menemukan satu ruangan yang lebih tinggi, yang saya kira kemungkinan pada posisi paling tinggi, Untungnya permukaan air tidak naik lagi. Mereka beruntung," jelas Cahyo yang melihat rekaman video dan foto-foto tentang ke-13 orang yang terperangkap di kompleks gua Tham Luang di Chiang Rai, Thailand utara.

Mereka terperangkap di dalam goa selama sembilan hari sebelum ditemukan dalam keadaan hidup, Senin (02/07) malam.

Namun, mereka mungkin harus menunggu air surut selama berbulan-bulan atau belajar menyelam agar bisa keluar dari goa, menurut militer Thailand.

Menurut pengamatan Cahyo, ada kesan para anak dan remaja di Thailand itu 'ceroboh' saat memasuki goa yang berair.

"Kalau saya lihat anak-anak itu tidak pakai helm, pakai sepatu bola. Itu sekelompok anak muda yang, maksudnya: 'ayo masuk-masuk yok' tanpa memakai peralatan. Mereka masih beruntung karena selama sembilan hari bertahan, ketersediaan pangan itu bagaimana saya tidak tahu, bisa survive (selamat)," tambah Cahyo.

Baca juga: Goa Bawah Air Terpanjang di Dunia Ungkap Jejak Suku Maya

Berbeda dengan tersasar di hutan -yang masih punya ketersediaan makanan darurat dari tanaman- maka di gua itu kemungkinan mendapatkan makanan amat kecil atau bahkan sama sekali tidak ada.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X