Resmi Sudah, Alam Liar Terakhir Bumi Terkontaminasi Plastik

Kompas.com - 09/06/2018, 19:07 WIB
Kapal Arctic Sunrise yang digunakan para peneliti untuk mengumpulkan sampel di Antartika Christian Åslund/Christian Åslund / GreenpeaceKapal Arctic Sunrise yang digunakan para peneliti untuk mengumpulkan sampel di Antartika

KOMPAS.com - Peneliti melaporkan adanya penemuan jejak plastik serta bahan kimia berbahaya di Antartika.

Kabar ini tentunya menjadi hal yang menyedihkan karena wilayah ini merupakan bagian terakhir dari planet yang sebagian besar tetap tak tersentuh oleh efek kerusakan aktivitas manusia.

Temuan ini berdasarkan penelitian terhadap sampel air serta salju yang ada di Antartika. Sejak awal tahun ini, para peneliti menghabiskan tiga bulan untuk mengambil sampel air dan salju dari daerah terpencil di Antartika.

Hasil analisisnya cukup mengejutkan. Peneliti menemukan bahwa air serta salju tersebut mayoritas berisi bahan kimia berbahaya persisten atau mikroplastik.

Baca juga: Ribuan Sampah plastik Ada di Titik Terdalam Lautan, Ini Artinya

Rinciannya, tujuh dari delapan sampel air permukaan laut yang diuji mengandung mikroplastik seperti mikrofiber. Sementara itu, tujuh dari sembilan sampel salju yang diuji mengandung konsentrasi yang dapat dideteksi dari bahan kimia berbahaya persisten (PFAS).

Sampel-sampel itu, menurut peneliti, berasal dari hujan atau hujan salju yang terkontaminasi.

Selama ini, bahan kimia seperti mikroplastik memang banyak digunakan dalam banyak proses industri dan produk konsumen. Mikroplastik juga telah dikaitkan dengan isu-isu reproduksi dan perkembangan satwa liar.

Temuan ini tentunya menggambarkan situasi yang menyedihkan, di mana dunia memang tengah menghadapi kekhawatiran dari krisis pencemaran plastik yang sudah jauh-jauh hari diperingatkan oleh para ilmuwan.

Baca juga: Krisis Sampah Plastik Ancam Indonesia, Seberapa Parahkah Kondisinya?

Frida Bengtsson, dari kampanye Protect the Antarctic Greenpeace, berkata bahwa temuan ini membuktikan kalau daerah paling terpencil di planet ini pun tidak kebal dari dampak polusi buatan manusia.

" Plastik kini telah ditemukan di seluruh pelosok lautan kita, dari Antartika hingga titik terdalam lautan di palung Mariana. Kita membutuhkan tindakan segera untuk mengurangi aliran plastik ke laut. Dan kita membutuhkan suaka untuk melindungi kehidupan laut untuk generasi mendatang," ujar Bengtsson.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X