Kompas.com - 30/05/2018, 17:31 WIB
Suasana Candi Borobudur yang difoto dari Punthuk Setumbu, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (30/11/2017). Candi ini termasuk salah satu dari 4 lokasi wisata yang menjadi prioritas percepatan pembangunan, sebagaimana Presiden Jokowi menargetkan kunjungan wisatawan pada 2019 mencapai 20 juta orang dan pergerakan wisatawan nusantara 275 juta, serta indeks daya saing pariwisata berada di ranking 30 dunia. ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWANSuasana Candi Borobudur yang difoto dari Punthuk Setumbu, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (30/11/2017). Candi ini termasuk salah satu dari 4 lokasi wisata yang menjadi prioritas percepatan pembangunan, sebagaimana Presiden Jokowi menargetkan kunjungan wisatawan pada 2019 mencapai 20 juta orang dan pergerakan wisatawan nusantara 275 juta, serta indeks daya saing pariwisata berada di ranking 30 dunia.

KOMPAS.com - Terhimpit empat lempeng bumi menjadikan Indonesia negara rawan bencana, khususnya gempa. Himpitan ini juga melahirkan deretan pegunungan dan ratusan gunung api yang aktif meletus secara periodik.

Gempa atau letusan gunung api bisa terjadi dalam skala begitu besar, sampai menghancurkan dan mengubur suatu peradaban. Sejarah membuktikannya dan salah satu peradaban itu adalah Mataram Kuno atau dikenal sebagai Medang tertutup.

Pada masanya, peradaban Medang telah membangun banyak candi di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Beberapa di antaranya adalah candi Kalasan, Prambanan, Sambisari, Kedulan, dan  candi Borobudur yang dibangun saat pemerintahan Wangsa Syailendra.

Dalam penjelasan ahli geolongi kuarter dari Universitas Gadjah Mada Didit Hadi Barianto di Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Jumat (25/5/2018), beberapa candi besar seperti Prambanan dan Borobudur dibangun di zona patahan.

Baca juga: Teka-teki Runtuhnya Peradaban Suku Maya Terungkap

Zona patahan itu menimbulkan gempa besar yang menyebabkan hilangnya jejak peradaban Medang.

Berikut rangkuman penjelasan Didit dalam diskusi bertema "Proses Geologi yang Menutup Jejak Peninggalan Keraton Medang Abad VIII-X Masehi".

1. Candi Borobudur

Candi berbentuk stupa ini didirikan pemeluk agama Budha sekitar abad ke-8 M, saat masa pemerintahan wangsa Syailendra.

Saat Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles menemukan candi Borobudur pada 1814, kondisinya rusak parah.

Sebelum direstorasi, candi Borobudur rusak parah. Sebelum direstorasi, candi Borobudur rusak parah.

Jauh berbeda dengan Borobudur yang kita lihat sekarang, banyak puing-puing stupa jatuh berhamburan. Candi tak nampak berdiri tegak, tapi bergelombang.

"Kalau saya lihat sekilas foto sebelum restorasi, kerusakannya lebih banyak diakibatkan oleh deformasi bumi. Bisa kita lihat patung naik ke atas, ada yang miring ke samping," ucap Didit mengomentari foto di atas.

Ia yakin, kerusakan Borobudur lebih banyak disebabkan oleh gempa tektonik akibat pergerakan lempeng bumi.

"Bukan karena vulkanik. Walaupun ada putih-putih yang menempel akibat abu vulkanik, tapi secara kerusakan struktur candinya lebih diakibatkan oleh gempa," tegasnya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengenal Lokasi, Karakteristik, dan Jenis Sesar Semangko

Mengenal Lokasi, Karakteristik, dan Jenis Sesar Semangko

Fenomena
Tidak Semua Kasus Dites Whole Genome Sequencing, Seberapa Efektif PCR-SGTF Deteksi Omicron?

Tidak Semua Kasus Dites Whole Genome Sequencing, Seberapa Efektif PCR-SGTF Deteksi Omicron?

Oh Begitu
Putri Nurul Arifin Meninggal Dunia karena Henti Jantung, Apa Saja Penyebab dan Gejalanya?

Putri Nurul Arifin Meninggal Dunia karena Henti Jantung, Apa Saja Penyebab dan Gejalanya?

Kita
Suara Asing Membuat Otak Tetap Aktif Saat Kita Tidur, Studi Jelaskan

Suara Asing Membuat Otak Tetap Aktif Saat Kita Tidur, Studi Jelaskan

Oh Begitu
WHO: Eropa Mungkin Bisa Menuju Akhir Pandemi Covid-19

WHO: Eropa Mungkin Bisa Menuju Akhir Pandemi Covid-19

Oh Begitu
Kakek Tewas Dikeroyok karena Diteriaki Maling, Mengapa Orang Main Hakim Sendiri?

Kakek Tewas Dikeroyok karena Diteriaki Maling, Mengapa Orang Main Hakim Sendiri?

Oh Begitu
Kakek Tewas Dikeroyok, Sosiolog : Main Hakim Sendiri jadi Momen Penyaluran Kekesalan Individu

Kakek Tewas Dikeroyok, Sosiolog : Main Hakim Sendiri jadi Momen Penyaluran Kekesalan Individu

Kita
Kerangkeng di Rumah Bupati Langkat Disebut untuk Rehabilitasi Pecandu Narkoba, Sudah Tepatkah Metode Ini?

Kerangkeng di Rumah Bupati Langkat Disebut untuk Rehabilitasi Pecandu Narkoba, Sudah Tepatkah Metode Ini?

Fenomena
Super Immunity Covid-19, Kombinasi Antibodi Pasca-Infeksi dan Vaksinasi

Super Immunity Covid-19, Kombinasi Antibodi Pasca-Infeksi dan Vaksinasi

Oh Begitu
95 Juta Tahun Lalu, Kepiting Kuno Punya Mata Besar dengan Penglihatan Sangat Tajam

95 Juta Tahun Lalu, Kepiting Kuno Punya Mata Besar dengan Penglihatan Sangat Tajam

Oh Begitu
Pasien Omicron di Jabodetabek Bisa Dapat Pelayanan dan Obat Covid-19 Gratis, Ini Syaratnya

Pasien Omicron di Jabodetabek Bisa Dapat Pelayanan dan Obat Covid-19 Gratis, Ini Syaratnya

Oh Begitu
Skenario Terburuk Gempa Banten yang Mengancam Wilayah Jakarta

Skenario Terburuk Gempa Banten yang Mengancam Wilayah Jakarta

Oh Begitu
Prediksi Ahli soal Covid-19 di Tahun 2022 Setelah Gelombang Infeksi Omicron

Prediksi Ahli soal Covid-19 di Tahun 2022 Setelah Gelombang Infeksi Omicron

Oh Begitu
Gejala Mirip Flu, Kapan Seseorang Harus Melakukan Pemeriksaan Covid-19?

Gejala Mirip Flu, Kapan Seseorang Harus Melakukan Pemeriksaan Covid-19?

Oh Begitu
Vaksin Booster Pfizer Bertahan Lawan Omicron Selama 4 Bulan, Studi Jelaskan

Vaksin Booster Pfizer Bertahan Lawan Omicron Selama 4 Bulan, Studi Jelaskan

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.