Kompas.com - 29/05/2018, 18:31 WIB
Peggy Whitson, astronot NASA yang hidup di antariksa selama 665 hari. Peggy Whitson, astronot NASA yang hidup di antariksa selama 665 hari.


KOMPAS.com - Hidup di luar angkasa bisa jadi pengalaman tak terlupakan bagi para astronot. Selain menegangkan dan seru, luar angkasa juga menyimpan sisi horor.

Hal ini diungkap Peggy Whitson, astronot wanita NASA yang pernah tinggal di antariksa selama 665 hari.

Matanya berkaca-kaca setiap kali ia mendapat tawaran untuk berangkat ke luar angkasa lagi.

Bukan terharu, Peggy justru enggan mengulang hidup di luar angkasa lantaran ia sangat menghindari toiletnya.

Baca juga: Tak Hanya di Jakarta, NASA Kembangkan Tinja Jadi Makanan

Selain toilet, Peggy sangat mencintai semua pekerjaannya di ISS. Mulai dari memasang komponen baterai di panel surya stasiun hingga mengambil sampel mikroba misterius dilakoninya.

"ISS bukanlah seperti hotel. Mungkin akan lebih tepat jika saya sebut perjalanan berkemah," ujar Peggy mengawali ceritanya kepada Business Insider September 2016 lalu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Peggy, Toilet ISS tidak separah Maximum Absorbency Garment yang digunakan para astronot dalam misi perjalanan Apollo ke bulan.

Namun, toilet buatan Rusia yang senilai 19.000 dollar AS itu dianggap mengerikan.

Toilet di ISS yang dikirim dengan roket Endeavour pada misi STS-126 2008. Toilet buatan Rusia senilai  19.000 dollar AS ini dapat mengubah urin astronot menjadi air minum. Toilet di ISS yang dikirim dengan roket Endeavour pada misi STS-126 2008. Toilet buatan Rusia senilai 19.000 dollar AS ini dapat mengubah urin astronot menjadi air minum.

"Kalau mau buang air kecil memang mudah. Ada corong yang dilengkapi kipas untuk menyedot air kencing sehingga tidak melayang," katanya.

Namun jika ingin melakukan hal selain buang air kecil, Peggy mengatakan itu adalah sesuatu yang lebih menantang dan menyeramkan.

Semua astronot ISS menggunakan toilet dengan lubang kecil yang dilengkapi kipas untuk menyedot kotoran.

Setelah selesai dipakai, kotoran tinja akan disegel dalam kantong plastik dan menunggu untuk dibuang saat hari pembuangan sampah luar angkasa.

"Jika kantong sudah mulai penuh, Anda harus memakai sarung tangan karet dan mengemasnya," katanya.

"Terkadang toilet juga mengalami masalah, sehingga para astronot harus menangkap aneka kotoran yang melayang," imbuh Peggy meringis.

Baca juga: NASA Ciptakan Titik Terdingin di Alam Semesta, Ini Misinya

Pada akhirnya semua sampah termasuk kotoran para astronot akan dibuang ke kapal kargo sampah ISS dan dibakar di atmosfer Bumi.

Sekitar 80 sampai 85 persen urin sudah berhasil didaur ulang menjadi air minum, dan sisanya menjadi sampah beraroma garam.

Jika Anda masih penasaran bagaimana toilet di ISS, tonton video dari astronot asal Italia Samantha Cristoforetti berikut.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X