Dyna Rochmyaningsih
Jurnalis

Jurnalis dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, menaruh minat pada isu kesehatan, kebijakan ilmu pengetahuan, dan kehutanan. SjCOOP Asia Fellow. Tulisannya telah dipublikasikan di sejumlah media internasional seperti Nature, Science, SciDev.Net, dan Science Daily

Islam yang Saya Temukan berkat Bapak dan Sains, Seperti Apa Islammu?

Kompas.com - 25/05/2018, 20:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh Dyna Rochmyaningsih

KOMPAS.com - Alam semesta berbicara kepada kita tentang keberadaan Allah dan Allah meminta kita untuk mendengarkan isyarat mereka.

Mungkin itulah kesimpulan pandangan saya sebagai seorang Muslim yang sangat menyukai sains alam.

Pandangan ini saya warisi dari ayah saya, seseorang yang saya panggil Bapak. Meskipun pandangan hidup kami saat ini tidak mutlak sama, Bapak adalah orang pertama yang mengajarkan saya tentang Islam dan sains.

Baginya, keduanya adalah satu kesatuan tak terpisahkan.

Ketika saya kecil, ada beberapa momen di mana saya menonton televisi bersama Bapak. Salah satu cara favorit kami adalah film dokumenter yang menyuguhkan keindahan alam dan keanekaragaman hayati di dunia.

Baca juga: Cerita Syira dan Jati Diri Bintang Paling Terang dalam Ayat Al Quran

Saya masih ingat salah satu episode yang memperlihatkan beragam ikan berwarna warni di terumbu karang. Sungguh cantik dan memukau. Dan Bapak pun berseru:

Subhanallah, cantik bener dih! Itu siapa ya yang “ngecat”? siapa yang gambar motifnya?”,

Sebelum saya menjawab, Bapak pun menjawab sendiri, “Allah…”

Ya, Bapak saya adalah seorang creationist. Dia menganggap beragam warna dan bentuk seluruh hewan di bumi adalah intelligent design Sang Pencipta.

Saya yang masih anak-anak tentu tidak paham bahwa apa yang dia katakan adalah kreasionisme. Namun yang saya pelajari adalah penting bagi kita untuk melakukan observasi terhadap alam semesta untuk mengasah keimanan kita sebagai Muslim.

Terkadang saya pun melihat setitik air mata haru ketika Bapak berkata “Allah hebat ya,..” Air mata itu mengajarkan saya tentang sense of wonder, sebuah perasaan yang dirasakan para filsuf dan ilmuwan di sepanjang sejarah dunia.

Mungkin itu juga perasaan Nabi Ibrahim ketika dia mendapati bahwa Tuhan adalah sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih agung daripada Matahari dan Bulan.

Ketika saya beranjak remaja, Bapak mulai banyak bercerita mengenai ketertarikannya mengamati alam semesta.

Baca juga: Agama Gajah Mada dan Majapahit yang Sebenarnya Akhirnya Diungkap

Selain kreasionis, Bapak juga seorang citizen scientist. Tidak hanya sekedar “berbicara”, namun Bapak juga melakukan eksperimen-eksperimen dari ide yang ada di kepalanya.

Sebuah buku harian Bapak dari tahun 1985 memperlihatkan bagaimana Surat An Nuur ayat 41 menginspirasinya untuk mempelajari aerodinamika burung dan capung.

Bapak mengukur panjang sayap, lebar badan, sudut antara ekor dan sayap, dari binatang yang ditangkapnya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.