Pertama dalam Sejarah, Kenya Luncurkan Satelit Buatan Dalam Negeri - Kompas.com

Pertama dalam Sejarah, Kenya Luncurkan Satelit Buatan Dalam Negeri

Kompas.com - 15/05/2018, 21:05 WIB
Satelit buatan Universitas Nairobi, Kenya Satelit buatan Universitas Nairobi, Kenya

KOMPAS.com - Kenya mulai mengambil langkah pertama ke luar angkasa. Hal ini ditandai dengan peluncuran satelit nano yang dibuat oleh Universitas Nairobi pada Jumat (11/05/2018).

Para insinyur membuat kapsul luar angkasa berbentuk kubus yang menggambarkan bahwa Kenya kini telah bergabung dengan klub antariksa.

Warga Kenya menyakiskan siaran langsung peluncuran satelit biatan pertama negara tersebut ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Mereka merayakan pencapaian bersejarah negara tersebut.

Faith Karanja, dosen senior di Departemen Geospasial dan Teknologi Luar Angkasa, adalah salah satu orang yang terlibat pada program satelit tersebut.

Dia mengatakan peluncuran yang sukses menunjukkan Kenya kini telah bergabung dengan negara lain di klub luar angkasa.

Baca juga: China Luncurkan Satelit Resolusi Tinggi Pemantau Lingkungan

"Ini benar-benar membawa kami ke level selanjutnya. Karena, sungguh, apa yang telah kami lakukan adalah ... kami baru saja pengguna teknologi antariksa, ilmu pengetahuan ruang angkasa dan teknologi," ungkap Karanja dikutip dari VOA News, Selasa (15/05/2018).

"Faktanya, kami berada dalam kategori di mana kami menyebut diri kami 'bangsa yang bercita-cita tinggi untuk aktivitas antariksa'. Sejauh ini kami peduli, setelah kerja keras yang telah dilakukan dan berhasil, kami berada di liga yang sama dengan negara dengan aktivitas antariksa lain," Kata Karanja.

Badan antariksa Kenya sendiri sebenarnya telah didirikan tahun lalu. Hanya saja belum banyak yang mereka kerjakan.

Satelit nano ini menjadi langkah besar mereka menuju program ruang angkasa lainnya.

Satelit nano tersebut berukuran 10 sentimeter kali 10 sentimeter. Sedangkan beratnya hanya 1,2 kilogram.

Satelit kecil ini dirancang dengan bantuan para ahli dari Universitas Sapienza Italia Roma dan Badan Eksplorasi Antariksa Jepang, JAXA.

Jepang juga mengucurkan sekitar satu juta dolar untuk proyek tersebut.

Sementara itu, Kenya banyak berperan dalam desain teknologi.

Satelit itu kemudian dibawa ke stasiun luar angkasa pada bulan April oleh roket SpaceX selama misi pemasokan ke ISS.

Meskipun demikian, mahasiswa teknik Kenya seperti Lucy Ruto terkesan dengan pencapaian sejauh ini.

"Saya sangat senang karena program ini datang pada saat ketika beberapa siswa Kenya berangkat ke luar negeri untuk mempelajari teknologi geospasial dan ruang angkasa, meninggalkan universitas kami," ujar Ruto.

"Saya sangat senang karena tahu ketika mereka ada di sana, mereka akan tahu bahwa kita dapat bersaing dengan program luar angkasa," imbuhnya.

Baca juga: TESS, Satelit Pemburu Planet Alien Milik NASA Sukses Mengangkasa

Universitas Nairobi sudah membuat rencana untuk pengembangan satelit lebih lanjut.

Hal ini disampaikan oleh Peter Ngau, kepala Fakultas Arsitektur dan Teknik.

"Langkah kami berikutnya adalah satu, untuk mencoba membuat ukuran lebih besar dari satelit nano ini. Yang telah kita lakukan disebut 1-U. Kita perlu membuat 3-U," kata Ngau dengan optimis.

"3-U dapat berisi kamera resolusi tinggi. Itu juga dapat berisi peralatan untuk komunikasi. Jadi, yang ini akan membutuhkan satu tahun lagi untuk membuatnya," tambahnya.

Ngau juga mengatakan, universitas telah mengirim tiga siswa Kenya untuk gelar sains tingkat lanjut di Kyushu Institute of Technology Jepang yang terkenal akan pengujian nano-satelit.

Universitas Nairobi mengatakan satelit pertama Kenya ini akan digunakan untuk mengumpulkan data tentang satwa liar, prakiraan cuaca, manajemen bencana, dan ketahanan pangan - di antara tujuan lainnya.


Terpopuler