Ilmuwan Temukan Bukti Pertama Tikus Bisa Mengingat Kenangan Masa Lalu - Kompas.com

Ilmuwan Temukan Bukti Pertama Tikus Bisa Mengingat Kenangan Masa Lalu

Kompas.com - 12/05/2018, 17:35 WIB
Para ilmuwan mengaktifkan gen muda dan mematikan gen yang lebih tua pada tikusReuters/ABC Australia Para ilmuwan mengaktifkan gen muda dan mematikan gen yang lebih tua pada tikus

KOMPAS.com - Para ahli saraf di Indiana University, AS mampu membuktikan bahwa hewan non-manusia secara mental bisa "memutar ulang" kenangan masa lalu.

Penemuan ini berpotensi membantu peneliti yang ingin mengembangkan perawatan baru untuk orang yang kehilangan ingatan karena penyakit Alzheimer atau penyakit serupa.

"Alasan kami tertarik pada memori binatang tidak hanya untuk memahami hewan, tetapi lebih untuk mengembangkan model memori baru yang sesuai dengan jenis gangguan memori pada penyakit manusia seperti Alzheimer," ungkap Jonathon Crystal, ahli saraf sekaligus pemimpin penelitian ini dikutip dari Science Alert, Jumat (11/05/2018).

Baca juga: Sempat Dikira Punah, Tikus Kanguru ini Ternyata Masih Hidup

Hewan yang menjadi subyek penelitian kali ini adalah tikus.

Sebelumnya, para ilmuwan telah mengetahui bahwa tikus bisa mengingat beberapa episode unik.

Hanya saja, sampai sekarang, tidak diketahui apakah mereka bisa memutar ulang serangkaian kejadian secara berurutan.

Namun, penelitian kali ini menjawab itu semua. Akibatnya, hal ini bisa menggeser paradigma untuk penelitian kehilangan memori pada pasien Alzheimer selanjutnya.

Selama bertahun-tahun, sebagian besar penelitian pra-klinis pada obat Alzheimer didasarkan tentang bagaimana obat mempengaruhi tes memori spasial.

Memori spasial adalah kemampuan untuk mengingat ruang bidang, bentuk, jarak dan luas, serta arah atau posisi seseorang.

Pada hewan, memori spasial bisa diukur. Inilah yang membuatnya sebagai dasar penelitian perawatan Alzheimer.

Sayangnya, hal ini justru membatasi uji coba. Alasannya adalah efek yang paling melemahkan pada penyakit Alzheimer tidak disebabkan memori spasial.

"Jika nenek Anda menderita Alzheimer, salah satu aspek yang paling memilukan dari penyakit ini adalah dia tidak bisa mengingat apa yang Anda katakan kepadanya, tentang apa yang terjadi dalam hidup Anda," ujar Danielle Panoz-Brown, penulis penelitian ini.

Baca juga: Risiko Alzheimer Hingga Kanker, Inilah Berbagai Dampak Kurang Tidur

"Kami tertarik pada memori episodik - dan memutar ulang memori episodik - karena penurunan penyakit Alzheimer dan penuaan secara umum," imbuhnya.

Memori episodik sendiri pada dasarnya adalah kemampuan untuk mengingat peristiwa tertentu dalam urutan yang benar.

Untuk mengetahui tepatnya kita bisa mengukur memori episodik pada hewan, para peneliti mengamati 13 tikus selama hampir satu tahun.

Mula-mula, peneliti melatih tikus untuk menghapal daftar 12 aroma unik secara berurutan.

Kemudian, tikus ditempatkan dalam beberapa "arena", masing-masing dengan pola yang sedikit berbeda dari 12 aroma ini.

Di arena tersebut, tikus diberi hadia jika mengidentifikasi bau kedua dan keempat pada daftar.

Para peneliti ingin memastikan bahwa tikus mengingat bukan peristiwa yang stagnan, tetapi aliran peristiwa dalam urutan yang benar.

Tim mencampur urutan daftar sebelum setiap tes untuk memastikan bahwa tikus-tikus ini menggunakan memori episodik mereka untuk mengingat daftar yang sebenarnya.

Dengan kata lain, mereka tidak hanya menggunakan indra penciuman mereka untuk mengidentifikasi bau yang tidak asing.

Dalam laporan yang dipublikasikan di jurnal Current Biology, secara keseluruhan, tikus mampu menyelesaikan tugas sekitar 87 persen dari waktu, jauh di atas peluang acak.

Baca juga: Tes Darah Ini Bisa Prediksi Kemunculan Alzheimer 30 Tahun Lebih Awal

Crystal mengatakan, ini adalah bukti kuat bahwa mereka menggunakan replay memori episodik.

Beberapa percobaan lanjutan juga menegaskan bahwa ingatan ini tahan lama (bahkan setelah penundaan satu jam) dan tahan terhadap "gangguan" dari tugas-tugas memori lain.

Kedua aspek tersebut mewakili ingatan episodik.

para peneliti yakin bahwa mereka memang telah menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa hewan dapat menggunakan ingatan episodik ketika mencoba mengingat serangkaian kejadian.

Penemuan ini menunjukkan bahwa ingatan episodik berada jauh di dalam skala waktu evolusioner, dan bahwa tikus dapat digunakan sebagai model untuk menyelidiki cara kerja ingatan episodik manusia.

Langkah selanjutnya adalah menemukan cara baru untuk menguji dan mengukur memori episodik pada tikus.

Dengan begitu, percobaan praklinis masa depan untuk obat Alzheimer dapat mulai menggambar pada memori episodik serta memori spasial.

"Kami benar-benar berusaha mendorong batas-batas model-model binatang dari memori ke sesuatu yang semakin mirip dengan bagaimana ingatan ini bekerja pada manusia," kata Crystal.

Baca juga: Waspada, Gejala Alzheimer Ini Sudah Dimulai sejak Remaja



Close Ads X