BMKG: Aktifnya Aliran Massa Udara Basah Picu Cuaca Ekstrem di Indonesia - Kompas.com

BMKG: Aktifnya Aliran Massa Udara Basah Picu Cuaca Ekstrem di Indonesia

Kompas.com - 26/04/2018, 12:57 WIB
ilustrasi hujan lebatWavebreakmedia Ltd ilustrasi hujan lebat

KOMPAS.com - Beberapa hari belakangan, banyak kejadian cuaca ekstrem melanda beberapa daerah di Indonesia. Mulai dari hujan disertai puting beliung di Jogjakarta dan Minahasa, banjir di Cilegon dan Bumi Ayu, dan lainnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) sebelumnya menjelaskan cuaca ekstrem tersebut adalah dampak dari musim pancaroba atau peralihan dari penghujan ke kemarau yang sedang terjadi di Indonesia.

Terkait hal tersebut, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Drs. Herizal M.Si, menjelaskan berkembangnya aktifitas cuaca signifikan beberapa hari ini di sejumlah wilayah disebabkan oleh beberapa hal. Selain pengaruh dinamika cuaca lokal, giatnya aktivitas cuaca juga didukung oleh aktifnya aliran massa udara basah yang dikenal dengan fenomena skala regional Madden Julian Oscilation (MJO) atau fenomena gelombang atmosfer tropis.

Aliran MKO merambat ke arah timur, dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik. "MJO memiliki siklus perambatan 30 sampai 90 hari, dan dapat bertahan pada suatu fase (lokasi perambatan yang digambarkan dalam kuadran) sekitar 3 sampai 10 hari," ujar Herizal melalui siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (26/4/2018).

Baca juga : Masih Musim Pancaroba, Waspadai Angin Puting Beliung di Indonesia

Ia menerangkan, saat ini fase basah (konvektif) MJO terpantau sudah berada di kuadran 4, di wilayah Benua Maritim Indonesia.

"MJO fase ini memberikan pengaruh dalam meningkatkan suplay uap air yang berkontribusi pada pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah," terangnya.

"MJO kali ini juga berkaitan dengan berkembangnya banyak pusaran di sekitar wilayah Indonesia yang memicu pemusatan massa udara dan jalur pertemuan angin (konvergensi) yang dapat memicu pertumbuhan awan yang signifikan," sambungnya.

Herizal berkata, dari sisi iklim kehadiran MJO dapat meredam suhu panas dan hari kering di beberapa daerah yang sudah memasuki musim kemarau. Namun, hal ini tidak berarti musim kemarau menjadi tertunda.

"MJO diperkirakan aktif hingga awal Mei nanti. Setelah itu kondisi atmosfer akan kembali cenderung kering, musim kemarau diperkirakan dominan di semua tempat di Pulau Jawa," kata Herizal.

Baca juga : Heboh Isu Gelombang Panas Ancam Indonesia, BMKG Beri Penjelasan



Close Ads X