Kompas.com - 23/04/2018, 19:06 WIB
Para pemulung sedang memilih sampah plastik di sebuah TPA. Para pemulung sedang memilih sampah plastik di sebuah TPA.

Sementara itu, menurut Anang Sudarna, Kepala Badan Perlindungan Lingkungan Hidup di Jawa Barat, inti masalahnya adalah harus melibatkan kekuasaan politik tingkat tinggi untuk membersihkan sampah.

Sudarna pun mencoba menyampaikan permasalahan tersebut kepada Presiden Indonesia dan memohon bantuan TNI. Menurut Sudarna, langkah itu telah membuat beberapa perbedaan.

"Hasilnya sedikit membaik ... tapi saya marah, saya sedih, saya mencoba memikirkan cara terbaik untuk menyelesaikan ini... yang paling sulit adalah sikap rakyat dan kemauan politik," kata Sudarna, dikutip dari BBC News, Kamis (19/4/2018). 

Kebijakan daur ulang dan media sosial

Program daur ulang di "desa ramah lingkungan" didukung pemerintah daerah Kota Bandung dengan memberi imbalan kepada warga yang menyetorkan plastik bekas.

Pemerintah sudah menentukan harga setiap jenis plastik sehingga warga dapat memilah dan memilih plastik mana yang memiliki nilai jual dan tidak.

Sebetulnya, pemerintah optimis program daur ulang tersebut akan cepat tersebar, dengan harapan bisa meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya sampah plastik.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Akan tetapi, pemerintah menyadari bahwa tidak semua warga tertarik dengan program daur ulang itu karena mungkin masyarakat belum menyadari bahaya sampah plastik di masa depan.

Baca Juga: Bali Deklarasikan "Darurat Sampah", Apa yang Harus Dilakukan?

Yang baru berjalan saat ini adalah satu-satunya lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Bandung yang hanya menerima sebagian kecil dari limbah yang dihasilkan kota. TPA tersebut sudah melakukan proses daur ulang.

Sementara itu, aktivis lingkungan dari Greeneration, Mohammad Bijaksana Junerosano, berpendapat bahwa memecahkan masalah sampah plastik harus melibatkan seluruh pihak di masyarakat, termasuk penegakan hukum, pendidikan dan kesadaran sosial.

"Mendidik anak-anak agar mencintai lingkungan, juga harus diimbangi dengan perilaku masyarakat. Apabila mereka melihat lingkungannya masih rusak dan orang-orang membuang sampah sembarangan, anak-anak akan bingung. Hal ini membutuhkan kerja sama antara pendidikan dan juga penegakan hukum oleh masyarakat," katanya.

Pendapat Mohammad disetujui oleh Profesor Ad Ragas, ahli lingkungan hidup dari Universitas Radboud di Belanda.

Halaman:


Sumber BBC
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.