Bukti Kekayaan Nusantara, Ekspedisi Selat Sunda Ungkap 12 Spesies Baru

Kompas.com - 19/04/2018, 19:34 WIB
Lebih dari selusin spesies baru krustasea ditemukan pada ekspedisi perintis ke perairan dalam di lepas pantai selatan Jawa Barat.FOTO: SJADES 2018 Lebih dari selusin spesies baru krustasea ditemukan pada ekspedisi perintis ke perairan dalam di lepas pantai selatan Jawa Barat.FOTO: SJADES 2018

KOMPAS.com - Sebuah ekspedisi laut dalam di perairan Selat Sunda oleh para peneliti dari Indonesia dan Singapura mengungkapkan setidaknya 12 spesies baru.

Menurut Profesor Dwi Listyo Rahayu ahli oseanografi dari LIPI, untuk penemuan spesies baru, yang bisa dipastikan adalah dari kelompok krustasea atau sejenis udang, kepiting dan kelomang.

"Dalam ekspedisi tersebut, ada 7 peneliti yang ahli dalam kelompok krustasea dan untuk sementara, spesies baru yang dipastikan adalah dari kelompok krustasea," kata Dwi kepada Kompas.com, Rabu (18/4/2018).

Dia melanjutkan, namun secara keseluruhan, kami berhasil mengambil sampel biota dari 63 lokasi dan sekitar 12.000 ekor biota dikoleksi, serta sekitar 40 rekam data baru untuk perairan Indonesia.

Baca Juga: Kali Pertama, Indonesia-Singapura Eksplorasi Laut Dalam di Jawa

Salah satu spesies baru yang ditemukan adalah seekor kepiting berkuran kurang lebih enam sentimeter yang diyakini para peneliti dari genus Rochinia.

Kepiting tersebut dikenal dengan nama kepiting "Telinga Besar", karena memiliki lempengan yang mirip bentuk kuping yang berfungsi melindungi bagian mata kepiting.

Dwi menambahkan bahwa masih ada kemungkinan lebih banyak spesies baru dari kelompok spesies lainnya.

Dari Jakarta hingga Selat Sunda

Dilansir dari Straittimes, Selasa (17/4/2018), ekspedisi yang melibatkan 31 peneliti tersebut menemukan sekitar 800 spesies yang berasal dari 200 lebih famili ubur-ubur, moluska, bintang laut, bulu babi, cacing, kepiting, udang, spons, bunga karang dan ikan.

Tim peneliti menyusuri perairan Jakarta hingga Selat Sunda dan perairan lepas pantai Cilacap di perairan barat daya Jawa selama 14 hari, ujar Profesor Peter Ng, dari kepala Museum Sejarah Alam Lee Kong Chian di Universitas Nasional Singapura.

Para peneliti menggunakan kapal pukat, kapal keruk dan perangkat lain yang mampu menjaring hewan dari berbagai ukuran di dalam laut.

Halaman:



Close Ads X