Teori Darwin Terbukti, Spesies dengan Perbedaan Mencolok Rentan Punah - Kompas.com

Teori Darwin Terbukti, Spesies dengan Perbedaan Mencolok Rentan Punah

Kompas.com - 12/04/2018, 17:01 WIB
Burung merak koleksi taman wisata sandakan sabah Malaysia ini menjadi salah satu daya tarik wsiatawan untuk bekrunjung kle lokasi ini pada setiao musim libur akhir pekan atau liburan nasional di Malaysia. Meski setipa pengunjung haru mebayar hingag 15 ringgit namun  wisatawan mengaku puas bisa menikmati aneka satwa dna burung langka di lokasi ini.KOMPAS.com/Junaedi Burung merak koleksi taman wisata sandakan sabah Malaysia ini menjadi salah satu daya tarik wsiatawan untuk bekrunjung kle lokasi ini pada setiao musim libur akhir pekan atau liburan nasional di Malaysia. Meski setipa pengunjung haru mebayar hingag 15 ringgit namun wisatawan mengaku puas bisa menikmati aneka satwa dna burung langka di lokasi ini.

KOMPAS.com - Ada teori yang mengatakan perbedaan jenis kelamin mencolok dalam satu spesies akan membuat spesies tersebut lebih rentan terhadap kepunahan.

Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Charles Darwin. Ia menyadari bahwa seleksi seksual oleh hewan betina dapat mengarah pada evolusi ciri-ciri ekstrem hewan jantannya. Hal tersebut membuat daya tahan tubuh berkurang drastis dan menyebabkan kepunahan.

Sejak saat itu, para ahli biologi mulai memperdebatkan kelangsungan hidup spesies yang memiliki perbedaan mencolok dalam membedakan jenis kelaminnya.

Baca juga : Bingungkan Darwin, Misteri Penyebaran Tanaman Berbunga Kini Terjawab

Beberapa ahli berpendapat spesies dengan perbedaan jenis kelamis ekstrem menjadi lebih rentan terhadap kepunahan karena tampilan pejantan yang berlebihan diduga membutuhkan banyak hal dan membuatnya kesulitan menghindari predator.

Argumen lain mengatakan spesies jantan dengan bentuk yang ekstrem membuat sulit bertahan hidup dan hanya mereka yang memiliki gen terbaik yang dapat melanjutkan keturunan. Namun, seleksi seksual dapat mempercepat adaptasi dan membuat spesies lebih tahan banting.

Untuk menemukan titik terang dari perdebatan ini, Gene Hunt dari Smithsonian Institution, AS dan koleganya mencoba mempelajari catatan fosil yang telah punah.

Mereka menilik 93 spesies krustasea kecil yang disebut ostracoda atau udang purba yang hidup sekitar 84 sampai 66 juta tahun lalu.

Dilansir New Scienctist Rabu (11/4/2018), pejantan dalam keluarga ostracoda memiliki kerangka yang lebih besar dan panjang daripada betinanya.

Tim membandingkan ukuran dan bentuk kerangka antara pejantan dan betinanya.

Mereka menemukan, spesies yang memiliki perbedaan jenis kelamin mencolok memiliki tingkat kepunahan sepuluh kali lipat lebih tinggi dibanding spesies yang perbedaan jenis kelaminnya sedikit.

"Hal ini menunjukkan bahwa alat kelamin yang besar mungkin berguna untuk memikat betina karena dapat memompa lebih banyak sperma. Namun hal ini juga mengambil energi dari organ lain yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup jangka panjang," ujar Hunt.

Baca juga : Peneliti Temukan Cara Hewan Laut Purba Bertahan dari Kepunahan

Temuan Hunt yang diterbitkan dalam jurnal Nature itu cocok dengan penelitian beberapa hewan lain.

Sebagai contoh, survei burung di Amerika Utara menemukan bahwa spesies burung jantan dengan warna cerah cenderung memiliki tingkat kepunahan 23 persen lebih tinggi dibanding burung jantan yang biasa saja.

"Temuan ini mungkin dapat berimplikasi pada upaya konservasi. Spesies dengan pejantan unik mungkin lebih rentan terhadap perubahan iklim dan perusakan habtita," imbuh Hunt.



Close Ads X