Universitas Korea Selatan Diboikot karena Kembangkan Robot Pembunuh

Kompas.com - 07/04/2018, 21:05 WIB
Terminator, salah satu Humanoid dalam fiksi MPC / Paramount PiTerminator, salah satu Humanoid dalam fiksi

KOMPAS.com – Sebuah surat terbuka baru saja dilayangkan kepada Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST) oleh 57 pakar dari 30 negara.

Surat tersebut menyatakan bahwa para pakar tidak akan lagi mengunjungi atau berkolaborasi dengan universitas tersebut hingga KAIST menghentikan kerja sama dengan perusahaan senjata Hanhwa System.

Berdasarkan kabar yang diterima oleh para pakar, kerja sama ini bertujuan untuk mengembangkan senjata militer yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan.

Langkah tersebut dinilai berlawanan dengan opini Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) yang berusaha mengantisipasi ancaman senjata otonom, dan dapat mempercepat realisasi skenario film The Terminator yang menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan Skynet bisa berbalik melawan manusia dalam usaha melindungi dirinya sendiri.

Baca juga : Elon Musk dan 100 Pakar AI Desak PBB untuk Larang Robot Pembunuh

“Kami sangat menyesalkan bagaimana sebuah institusi bergengsi seperti KAIST berusaha mempercepat persaingan dalam mengembangkan senjata semacam ini," ujar para pakar dalam surat tersebut.

Mereka melanjutkan, senjata otonom punya potensi untuk menjadi senjata teror. Diktator dan teroris bisa menggunakan mereka terhadap populasi yang tidak bersalah, membuang semua batasan etika.

“Jika sudah dibuka, kotak Pandora ini akan sulit untuk ditutup kembali,” kata mereka memperingatkan.

Baca juga : Perlukah Kita Takut Dikalahkan oleh Kecerdasan Buatan?

Lucas Apa, seorang konsultan keamanan dari firma keamanan siber IOActive, menyetujui kekhawatiran para pakar. Dilansir dari The Independent, Kamis (5/4/2018), dia memberikan contoh bagaimana sebuah malfungsi robot menyebabkan kematian seorang pekerja pabrik pada 2016.

“Seperti teknologi lainnya, kita mendapati bahwa teknologi robot tidak aman dari berbagai aspek. Sangat mengkhawatirkan bila kita sudah bergerak menunju kemampuan militer ofensif ketika keamanan sistem ini masih sangat kurang. Jika ekosistem robot masih rentan diretas, robot bisa jadi malah melukai kita,” katanya.

Menanggapi hal ini, presiden KAIST Sung Chul Shin berkata bahwa ini merupakan kesalahpahaman.

“Sekali lagi saya tegaskan bahwa KAIST tidak akan melakukan aktivitas riset yang melawan kehormatan manusia, termasuk senjata otonom yang tidak memiliki kontrol manusia,” ujarnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X