Riset Ilmiah Dianggap Solusi Polemik "Cuci Otak" ala Terawan

Kompas.com - 07/04/2018, 20:28 WIB
Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto Mayjen TNI dokter Terawan Agus Putranto enggan menanggapi  perihal keputusan  pemberhentian sementara dari keanggotan IDI yang dikeluarkan oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Persatuan Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) terhadap dirinya, Rabu (4/4/2018). KOMPAS.com/DAVID OLIVER PURBAKepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto Mayjen TNI dokter Terawan Agus Putranto enggan menanggapi perihal keputusan pemberhentian sementara dari keanggotan IDI yang dikeluarkan oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Persatuan Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) terhadap dirinya, Rabu (4/4/2018).

KOMPAS.com - Riset ilmiah diangggap menjadi solusi terkait kontroversi "cuci otak" dr Terawan Agus Putranto terhadap pasien stroke. Pintu untuk bantahan terhadap metode Terawan juga dibuka lebar melalui proses riset ilmiah dan akademis.

Hal ini disampaikan oleh Universitas Hasanuddin (Unhas) di Makassar yang menjadi tempat Terawan meraih gelar doktornya.

Kepala Humas dan Protokol Universitas Hasanuddin (Unhas) Ishaq Rahman, di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (6/4/2018), menyarankan Terawan untuk menjalin komunikasi dengan IDI untuk meredakan kontroversi di masyarakat. 

"Soal kode etik, itu adalah urusan IDI dan yang bersangkutan. Dalam data Unhas, Terawan masuk sebagai mahasiswa program doktor pada semester ganjil tahun 2012 dan menyelesaikan kuliah pada Agustus 2016,” kata Ishaq.

Baca Juga: Terkait Kasus Pelanggaran Dokter Terawan, Ini Tanggapan Kemenkes

Prof dr Irawan Yusuf, PhD, yang menjadi promotor Terawan Agus Putranto saat mengambil program doktor di Unhas, juga berkata bahwa Terawan memang mendalami terapi stroke dalam disertasinya dan menunjukkan bahwa heparin dapat membuka penyumbat pembuluh darah.

"Penanganan stroke harus cepat. Jika tidak, jaringan otak bisa mati. Jika jaringan otak mati, penyembuhan susah. Makanya banyak pasien stroke yang lumpuh dan lama. Dengan membuka sumbatan lebih cepat, pengobatan konvensional dapat dilakukan dengan efektif. Metode ini memperpanjang window period dan gejala klinis membaik,” kata Irawan.

Seperti diketahui, Judul desertasi Terawan adalah "Efek Intra Arterial Heparin Flushing (IAHF) terhadap Regional Cerebral Blood Flow (rCBF) Motor Evoked Potentials (MEPs) dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis".

Baca juga : Stroke, Terawan dan Cuci Otak, Bagaimana Masyarakat Harus Bersikap?

Irawan pun menambahkan bahwa metode penggunaan zat heparin memang mencegah pembekuan pembuluh darah. Namun, belum pernah dibuktikan bagaimana mekanisme heparin membuka sumbatan tersebut. Oleh karena itu, Irawan menyarankan Terawan untuk melakukan riset dan pembuktian secara ilmiah.

”Dalam metode Terawan, kenyataannya sumbatannya memang terbuka. Tapi, apakah disebabkan oleh heparin, ini harus dibuktikan. Jadi, ini yang mesti dicari dan dijelaskan. Intinya, kontroversi harus diselesaikan dengan riset,” kata Irawan.

Dilansir dari Kompas.id, Sabtu (7/4/2018), Irawan menghimbau Terawan untuk terus menjalin komunikasi dengan ahli dan IDI.

Selain itu, dia juga mengajak masyarakat untuk memberi Terawan kesempatan melakukan riset lebih mendalam terkait metode "cuci otak" dengan heparin tersebut.

Lalu, alangkah lebih baik lagi bila para ahli lainnya juga membuktikan bantahan secara ilmiah dan akademis terkait metode Terawan.



Sumber
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bumi Awal Dulu Punya Atmosfer yang Beracun, Ditutupi Lautan Magma

Bumi Awal Dulu Punya Atmosfer yang Beracun, Ditutupi Lautan Magma

Fenomena
Mengenal 2 Ilmuwan Peraih L'Oreal-UNESCO for Women in Science 2020

Mengenal 2 Ilmuwan Peraih L'Oreal-UNESCO for Women in Science 2020

Kita
Data Uji Klinis 1 Bulan Tunjukkan Vaksin Covid-19 Sinovac 'Aman'

Data Uji Klinis 1 Bulan Tunjukkan Vaksin Covid-19 Sinovac "Aman"

Fenomena
BMKG: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem 2 Hari Ini, Berikut Daftar Wilayahnya

BMKG: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem 2 Hari Ini, Berikut Daftar Wilayahnya

Fenomena
Kasus Covid-19 Global Tembus 60 Juta, Bagaimana Islandia Kendalikan Virus Corona dengan Sains?

Kasus Covid-19 Global Tembus 60 Juta, Bagaimana Islandia Kendalikan Virus Corona dengan Sains?

Fenomena
Jaga Imunitas, 5 Suplemen dan Vitamin untuk Ibu Hamil di Masa Covid-19

Jaga Imunitas, 5 Suplemen dan Vitamin untuk Ibu Hamil di Masa Covid-19

Oh Begitu
2 Buku Teori Evolusi Charles Darwin Hilang dari Perpustakaan Cambridge

2 Buku Teori Evolusi Charles Darwin Hilang dari Perpustakaan Cambridge

Oh Begitu
Langka, Ahli Temukan Burung Era Dinosaurus dengan Paruh Mirip Sabit

Langka, Ahli Temukan Burung Era Dinosaurus dengan Paruh Mirip Sabit

Oh Begitu
Jokowi Minta Libur Akhir Tahun Dikurangi, Epidemiolog Sarankan Ini

Jokowi Minta Libur Akhir Tahun Dikurangi, Epidemiolog Sarankan Ini

Oh Begitu
Evolusi Virus Bisa Gagalkan Vaksin Covid-19, Ini Cara Menghentikannya

Evolusi Virus Bisa Gagalkan Vaksin Covid-19, Ini Cara Menghentikannya

Oh Begitu
Masih Sepupu Manusia, Ditemukan Kerangka Manusia Purba Berusia 2 Juta Tahun

Masih Sepupu Manusia, Ditemukan Kerangka Manusia Purba Berusia 2 Juta Tahun

Fenomena
Gejala Kanker Mulut Mirip Sariawan, Begini Cara Mencegahnya

Gejala Kanker Mulut Mirip Sariawan, Begini Cara Mencegahnya

Kita
Lonjakan Kasus Covid-19 Diprediksi Tinggi, Ini Strategi Hadapi Rumah Sakit Penuh

Lonjakan Kasus Covid-19 Diprediksi Tinggi, Ini Strategi Hadapi Rumah Sakit Penuh

Oh Begitu
Mitos atau Fakta: Seledri Tingkatkan Kesehatan Seksual Pria

Mitos atau Fakta: Seledri Tingkatkan Kesehatan Seksual Pria

Kita
Studi Baru: Mutasi Tak Membuat Virus Corona Menyebar Lebih Cepat

Studi Baru: Mutasi Tak Membuat Virus Corona Menyebar Lebih Cepat

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X