Stroke, Terawan dan Cuci Otak, Bagaimana Masyarakat Harus Bersikap?

Kompas.com - 07/04/2018, 18:06 WIB
Kepala RSPAD Gatot Subroto Mayjen TNI dokter Terawan Agus Putranto. Bidik layar Kompas TVKepala RSPAD Gatot Subroto Mayjen TNI dokter Terawan Agus Putranto.

KOMPAS.com - Nama dr Terawan Agus Putranto akhir-akhir ini menjadi buah bibir di masyarakat. Pasalnya, metode "kuras otak" yang diterapkannya selama ini dianggap belum lolos uji ilmiah. Di sisi lain, penderita stroke yang "sembuh" setelah menjalani terapi ala Terawan tersebut bersikukuh sangat terbantu dengan pengobatan Terawan.

Perdebatan  masih berlangsung di kalangan para ahli di Indonesia. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai organisasi induk para dokter di Indonesia juga sudah mengambil sikap. Namun, apakah masyarakat sudah benar-benar mengerti permasalahan di balik perdebatan " cuci otak" ala dokter Terawan tersebut?

Dilansir dari Kompas.id, Sabtu (7/4/2018), Handrawan Nadesul, seorang dokter, penulis buku, dan motivator kesehatan, menjelaskan bahwa stroke terjadi ketika otak kita tidak berfungsi normal karena sumbatan di pembuluh darah yang berfungsi mendukung kerja otak.

Hambatan di pembuluh darah itu, atau yang sering disebut plak, terbentuk karena atherosclerosis. Plak tersebut terbentuk karena sejumlah faktor, antara lain lemak darah (lipid) meninggi, diabetik, hipertensi, kegemukan, kurang bergerak, peradangan pembuluh, kebanjiran radikal bebas, tingginya sel pembeku darah platelet, keturunan, dan stres.

Kasus penyumbatan darah juga bisa terjadi karena emboli. Emboli adalah materi sisa plak yang terbawa aliran darah di pembuluh darah menuju otak dan akhirnya menyumbat pembuluh otak, terjadilah stroke. Biasanya materi sisa plak tersebut berasal dari jantung dan pembuluh darah leher carotid.

Selain itu, penyumbataan juga bisa terjadi di dinding pembuluh darah di otak karena faktor usia. Seiring berjalannya waktu, dinding pembuluh darah akan menjadi kaku dan keras (arteriosclerosis). Itulah mengapa stroke karena faktor usia sering tidak terkait dengan sejumlah faktor-faktor yang disebutkan sebelumnya.

Stroke juga bisa terjadi karena pecahnya pembuluh darah di otak karena lonjakan hipertensi atau anomali dalam pembuluh darah yang disebut stroke perdarahan. 

Baca Juga: Terapi Cuci Otak Dokter Terawan Bisa Obati Stroke? Ini Kata Ahli

Menurut Handrawan, metode dokter Terawan memang bertujuan membersihkan sumbatan dengan memanfaatkan teknik pencitraan pembuluh darah otak DSA (digital substraction angiography) yang dimodifikasi dengan zat heparin dan eptifibatide.

Masalahnya, zat yang dipakai dan metode pemberiannya berbeda dengan standar penanganan pasien stroke pada umumnya, dan ini memunculkan kontroversi. Sejumlah ahli menganggap metode tersebut tidak memiliki dasar ilmiah dan belum sepenuhnya terbukti aman bagi pasien.

Pihak Perdossi, ikatan dokter ahli saraf kita yang diketuai Prof Dr Moch Hasan Machfoed, menjelaskan di sebuah jurnal internasional BAOJ Neurology bahwa pemakaian heparin dalam terapi stroke tidak memiliki dasar ilmiah. Hasan juga mempertanyakan hasil disertasi dokter Terawan terkait “kuras otak” yang ditulis dalam Bali Medical Journal.

Halaman:


Sumber
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X